Tampilkan postingan dengan label dewa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dewa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Mei 2016

AWATARA KEENAM - PARASURAMA AWATARA

AWATARA KEENAM – PARASURAMA AWATARA

Nama lain : Rambhadra, Ramabargwa, Bregupati, Rama Bhargawa, Ramaparasu
Arti Nama : Rama Yang Membawa Kapak (Ramaparasu), Rama Sang Keturunan Maharsi Bhregu (Rama Bhargawa).
Ras : Manusia Awatara (Awatara Wisnu), Chiranjiwin (Kaum Abadi).
Masa Kemunculan : Treta Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga
Senjata : Parasu (Kapak) dan Busur Vijaya
Pasangan : Dharini
Profesi : Brahmana
Lawan Utama : Warna Kesatria, terutama Arjuna Sasrabahu.

Ada seorang Rsi yang menjadi bagian dari tujuh Sapta Rsi bernama Jamadagni. Jamadagni telah memiliki empat putra namun suatu ketika istrinya hamil putra kelimanya, Jamadgani dan istrinya, Renuka, mendapat pesan dari Batara Siwa bahwa Batara Wisnu akan menitis kepada putra kelima mereka. Putra kelima mereka ini dinamai Rama atau Ramabhadra.

Sebagai istri brahmana yang tergabung dalam Sapta Rsi, Renuka memiliki kemampuan untuk memadatkan tanah liat yang masih basah dan belum dibakar menjadi pot tembikar untuk menampung air. Namun suatu saat hendak mengambil air di sungai, ia terpesona melihat sekawanan gandarwa , satu pikiran untuk ‘serong’ dengan para gandarwa langsung melintas di pikiran Renuka. Akibatnya kendi air di tangannya langsung meleleh dan larut dalam air. Renuka pun ketakutan dan tidak berani pulang karena ia tahu suaminya pasti akan marah besar padanya.

Jamadagni tidak perlu waktu lama untuk tahu perbuatan istrinya itu. Dalam meditasinya, lintasan pikiran Renuka masuk ke dalam pikirannya. Dengan kekuatannya, Sang Rsi memaksa sang istri pulang lalu memanggil putra sulungnya dan menyodorkan sebuah kapak kepadanya. “Bunuh ibumu dengan kapak itu!” kata Jamadagni.

Sang putra sulung ketakutan dan menolak perintah sang ayah, dan sebagai akibatnya ia dikutuk menjadi batu. Putra kedua, ketiga, dan keempat juga dipanggil dan diberi perintah serupa, dan semuanya menolak. Akhirnya empat putranya pun berubah menjadi batu. Sampai akhirnya Rama mengambil kapak itu dan tanpa ragu memenggal kepala ibunya.

Jamadagni terkesan oleh kepatuhan Rama sehingga menawarinya untuk mengabulkan dua permintaan Rama. Rama hanya meminta sang ayah menghidupkan kembali ibu dan empat kakaknya. Kemudian dengan senang hati Jamadagni mengabulkannya.

***
Meskipun merupakan awatara Wisnu, Rama dan ayahnya termasuk brahmana sekte Shaivanism (Siwaisme) yang lazim hidup bertapa, menyendiri di tengah hutan atau pegunungan, makan seadanya dari hutan, dan melumuri tubuh mereka dengan abu. Ketika sudah cukup usia, Rama meninggalkan rumahnya untuk bermeditasi pada Siwa. Setelah melakukan tapa selama bertahun-tahun Siwa datang menemuinya, memberinya sebuah kapak yang tak dapat dihancurkan oleh apapun bernama Parasu (Parashu). Lalu memberi perintah pada Rama untuk membebaskan Ibu Bumi dari penjahat, orang-orang serakah, iblis, dan orang-orang yg meninggalkan ajaran Dharma.

Kemudian selama 21 hari Siwa menantang Rama untuk bertarung. Selama 21 hari itu pula murid dan guru itu saling tebas dan serang. Siwa dengan trisulanya, Rama dengan Parasunya. Di hari ke-21 Rama berhasil melukai dahi Siwa dengan kapaknya dan pertarungan pun dihentikan. Siwa sangat puas dengan kecakapan muridnya itu dan sejak saat itu menamai diri-Nya ‘Khanda-parshu’ (Yang dilukai oleh kapak) sebagai wujud penghormatan Siwa pada Rama. Nama Rama sendiri kemudian berubah menjadi Parasurama.

****
Ada seorang raja dari ras Yadu, bernama Kartavirya Arjuna atau Arjuna Sasrabahu – Arjuna yang bertangan seribu. Raja ini menguasai wilayah Mahespati (atau Halaya di versi India). Awalnya raja ini adalah raja yang bijak dan perkasa. Raja ini bahkan sempat mengalahkan Rahwana muda dan memaksa Rahwana untuk tidak mengekspansi negara lain lagi.

Tapi kemudian raja ini menjadi ‘gila hormat’ dan merasa tak ada satupun yang lebih sakti dari dirinya. Dalam kunjungannya ke asrama (pertapaan) Rsi Jamadagni, Sang Raja disuguhi aneka hidangan nikmat ala istana oleh Sang Rsi dalam kuantitas yang tidak main-main. Penasaran dari mana Sang Rsi mendapatkan hidangan sebanyak dan semewah itu padahal hidupnya amat sederhana, Jamadagni mengatakan bahwa ia mendapatkannya melalui perantaraan sapi Kamadhenu (Sapi ini adalah sapi pengabul segala kehendak yang keluar pada saat Samudra Manthan yang diberikan oleh Batara Wisnu (atau Indra, tergantung versinya) kepadanya. Arjuna Sasrabahu menginginkan sapi itu. Ia hendak membeli sapi itu, tapi Jamadagni menolaknya. Sang raja terus membujuk dan menaikkan tawarannya tapi Jamadagni tetap kukuh bahwa sapi pemberian Bhatara Wisnu itu tidak dijual.

Karena kesal tawarannya ditolak, Sang Raja lalu membawa sapi itu secara paksa dari asrama Rsi Jamadagni. Dan tak berapa lama kemudian Parasurama kembali ke pertapaan ayahnya dan mendapati sapi Kamadhenu tak ada lagi di rumah ayahnya. Ketika Parasurama bertanya ke mana perginya sapi itu, ayahnya menjawab bahwa Raja Arjuna Sasrabahu membawanya. Marah atas perilaku Sang Raja yang seenaknya, Parasurama berlari ke istana Sang Raja dengan niat merebut kembali sapi suci itu.

Arjuna Sasrabahu tidak mau mengembalikan sapi itu begitu saja dan menantang Parasurama untuk bertarung. Parasurama memanah satu-demi-satu seribu tangan Arjuna lalu memenggal kepala Sang Raja kemudian membawa pulang sapi Kamadhenu ke pertapaan ayahnya. Ayahnya senang sapinya kembali, tapi melihat ada noda darah di kapak anaknya, Jamadagni berkata, “Tidak layak Brahmana dikontrol oleh amarah dan kesombongan. Sucikan dirimu segera, Rama.”

Maka Parasurama pun kembali meninggalkan rumahnya, mengasingkan diri selama satu tahun untuk menyucikan diri. Di pengasingan ini, Indra menghadiahinya busur Wijaya sebagai hadiah atas keberaniannya menantang Arjuna Sasrabahu. Tapi di saat yang sama, anak-anak Arjuna Sasrabahu yang menemukan jenazah ayah mereka menjadi luar biasa marahnya. Mereka segera menyerbu pertapaan Jamadagni dan membunuh Sang Rsi dengan menembakkan ratusan anak panah. Jamadagni pun tewas. Anak-anak Arjuna Sasrabahu pun memenggal kepala Jamadagni dan membawanya ke istana mereka sebagai tropi kemenangan.

Ketika Parasurama kembali dari pengasingannya, ia menemukan ibunya tengah berduka dan meratapi kematian ayahnya sambil memukul-mukul dadanya sebanyak 21 kali. Di samping ibunya, teronggok jasad Jamadagni yang tanpa kepala. Parasurama pun menjadi sangat sakit hati atas kepongahan warna (kasta) kesatria dan bersumpah akan membantai seluruh kaum kesatria dalam pembantaian yang akan dia lakukan sebanyak 21 kali keliling dunia.

***
“Pada masa antara Treta dan Dwapara Yuga, Parasurama, sang pejuang terhebat, terusik oleh ketidaksabarannya menyaksikan segala kepongahan kaum kesatria, berulang kali membantai kaum kesatria. Ketika ia selesai dengan aksi pembantaiannya, ia telah menciptakan Samanta-panchaka, lima danau besar berisi darah.

Parasurama membantai seluruh raja yang ada di dunia ini tanpa pandang bulu. Ia tidak peduli apakah raja-raja ini masih muda atau sudah tua, apakah raja ini punya pewaris atau tidak punya pewaris, atau apakah raja ini dicintai rakyatnya atau malah dibenci rakyatnya. Pokoknya nyaris tidak ada dinasti kerajaan yang ‘selamat’ dari amukan Parasurama. 

Korban pertama dari perjalanan Parasurama ini adalah anak-anak Arjuna Sasrabahu. Setelah membunuh anak-anak ‘kurang ajar’ ini ia membawa kembali kepala ayahnya ke pertapaan dan melakukan upacara pembakaran jenazah lalu melanjutkan perjalanannya.

Setelah 21 kali mengelilingi dunia, Parasurama mengadakan sebuah upacara agung yang intinya menyatakan bahwa raja-raja yang tersisa wajib menyerah dan menyatakan kesetiaan kepada Parasurama. Yang tidak mau, dipersilakan mengalahkan Parasurama. Sebagian raja tidak mau mengakui seorang brahmana sebagai Maharaja mereka, dan akhirnya tewas saat bertarung dengan Parasurama. Raja-raja yang tersisa akhirnya menyatakan diri sebagai bawahan Parasurama. Parasurama sendiri kemudian membagi-bagikan wilayah taklukannya di antara para brahmana sebelum akhirnya mengundurkan diri untuk bertapa kembali di Pegunungan Mahendra.

***
Ada satu dinasti yang selamat dari amukan Parasurama, yakni Dinasti Surya (Kerajaan Ayodhya). Entah bagaimana dinasti ini tidak kena utak-atik dari Parasurama.
Hingga akhirnya Parasurama dipertapaannya mendengar suara gemuruh yang maha dasyat menggelegar saat seorang pangeran dari Kerajaan Ayodhya bernama Rama mematahkan busur Haradhanu milik Siwa yang dimiliki oleh Raja Mithila, Janaka, saat tengah mengadakan sayembara untuk mencari suami bagi putri angkatnya Sita.

Parasurama langsung naik darah. Ia menyangka ada lagi kaum kesatria yang telah lancang sok pamer kekuatan di dunia ini. Langsung saja ia turun gunung dan menghadang Rama yang sedang dalam perjalanan pulang ke Ayodhya bersama Sinta, adiknya Laksmana, dan seorang Sapta Rsi Wiswamitra. Wiswamitra memohon agar Parasurama kembali lagi ke pertapaannya dan berusaha keras meyakinkan Parasurama bahwa Rama sama sekali tidak punya maksud ‘pamer kekuatan’ hanya saja busur Haradhanu milik Siwa tiba-tiba patah saat direntangkan oleh Rama.

Parasurama tidak percaya, ia melemparkan busur Wisnudhanu, busur yang dimilikinya sebagai awatara Wisnu kepada Rama dan menantangnya untuk menarik busur itu. Rama menarik busur itu tanpa kesulitan sementara kapak Parasurama tiba-tiba menjadi sangat berat. Parasurama pun langsung sadar bahwa dia bukan lagi awatara Wisnu. Rama sudah mengambil alih posisinya. Karena itu ia pun undur diri dan masuk kembali ke dalam hutan. Busur milik Wisnu itu diberikan pada Rama.

Parasurama adalah awatara Wisnu paling unik karena ia adalah Chiranjiwin (kaum abadi). Ia terus hidup sampai era Dwapara Yuga, di mana kisah Mahabaratha akan terjadi. Di masa ini ia menjadi guru dari seorang pangeran Wangsa Kuru bernama Bhisma. Di masa ini kebenciannya terhadap kaum kesatria sudah hilang. Tapi ada satu masalah yang kemudian membuat hubungan guru-murid ini retak.

Permasalahannya ... Bhisma pernah dengan sengaja memenangkan sayembara memperebutkan putri dari kerajaan seberang yakni Amba, Ambalika, dan Ambika untuk diperistri adiknya.
Hingga akhirnya Ambika meminta bantuan dari Parasurama. Karena Bhisma sudah "menghina"nya.
Parasurama  dan Bhisma saling baku hantam selama 23 hari dan pada akhirnya Bhisma yang menang (Bhisma saat itu adalah manusia awatara dari Dyaus sementara Parasurama sudah bukan lagi manusia awatara). Kesal dengan perilaku Bhisma, Parasurama bersumpah tidak akan pernah mau lagi mengajar murid dari golongan kesatria.

***
Drona, seorang brahmana yang kelak akan menjadi guru para Kurawa dan Pandawa suatu saat bertemu dengan Parasurama dalam sebuah perjalanan. Drona menyatakan bahwa ia butuh pengetahuan tentang segala jenis senjata yang diketahui Parasurama. Karena Drona seorang brahmana, Parasurama akhirnya mengajari Drona segala jenis teknik beladiri dan penggunaan senjata baik senjata biasa atau astra (Brahmastra terutama). Ia juga memberi Drona semua senjata koleksinya kecuali kapak Siwa dan busur Wijaya dari Indra.

***
Radheya, putra sulung Kunti anugrah Bhatara Surya sekaligus kakak sulung Pandawa, diadopsi oleh kusir kereta kerajaan Hastina. Memiliki bakat alam sebagai pemanah handal, ia sempat minta diajari memanah oleh Drona tapi Drona menolak karena sudah terikat sumpah pada Bhisma dan Tua-Tua Hastina bahwa ia hanya akan mengajari para pangeran Hastina. Kesal karena penolakan Drona, Radheya mengembara mencari Parasurama dengan menyamar sebagai seorang brahmana. Parasurama senang sekali menerima ‘brahmana’ Radheya sebagai muridnya. Ia menganggap Radheya adalah muridnya yang paling cerdas dan cepat belajar. Tapi semua itu berubah saat suatu ketika Parasurama tengah tidur berbantalkan pangkuan Radheya . Saat itu seekor kalajengking menyengat kaki Radheya sehingga kaki Radheya berdarah dan darahnya menetes ke wajah Parasurama.

Parasurama terbangun dan langsung menginterogasi Radheya. Mulanya Radheya tidak mengaku tapi ketika Parasurama mendesak, ia mengaku bahwa ia memang bukan Brahmana.

Parasurama menghardik, “Cuma Kesatria yang bisa menahan rasa sakit disengat kalajengking seperti itu!”

“Guru, saya bukan kesatria. Saya hanyalah Suta, anak kusir.”

“Ah, sama saja! Kau menipuku! Karena kau sudah menipuku untuk mendapatkan pengetahuanku, kelak semua senjata dan kesaktianmu tak akan berguna di saat-saat kau sangat membutuhkannya!”

Tapi meskipun Parasurama marah besar pada Radheya, ia memberi Radheya pusakanya yang terakhir : Busur Wijaya dan astra bernama Bhagavastra.

Kutukan Parasurama terbukti. Menjelang dan di saat bertarung dengan Arjuna, kesaktian Karna menghilang satu demi satu. Dia bahkan tak bisa memanggil satupun astra miliknya di saat-saat terakhir. Karna sendiri akhirnya tewas terpenggal panah Pasopati Arjuna.

***
Diceritakan dalam Wisnupurana, Awatara terakhir Wisnu yakni Kalki Awatara akan berguru pada Parasurama guna mendapatkan senjata dari Siwa untuk mengalahkan Iblis Kali.

***
Parasurama juga ditampilkan sebagai tokoh dalam pewayangan. Ia lebih terkenal dengan sebutan Ramabargawa. Selain itu ia juga sering dipanggil Jamadagni, sama dengan nama ayahnya.

Ciri khas pewayangan adalah jalinan silsilah yang saling berkaitan satu sama lain. Kisah-kisah tentang Ramabargawa yang bersumber dari naskah Serat Arjunasasrabahu antara lain menyebut tokoh ini sebagai keturunan Batara Surya. Ayahnya bernama Jamadagni merupakan sepupu dari Kartawirya raja Kerajaan Mahespati. Adapun Kartawirya adalah ayah dari Arjuna Sasrabahu alias Kartawirya Arjuna. Selain itu, Jamadagni juga memiliki sepupu jauh bernama Rsi Gotama, ayah dari Subali dan Sugriwa.

Dalam pewayangan dikisahkan Ramabargawa menghukum mati ibunya sendiri, yaitu Renuka, atas perintah ayahnya. Penyebabnya ialah karena Renuka telah berselingkuh dengan Citrarata raja Kerajaan Martikawata. Peristiwa tersebut menyebabkan kemarahan dan rasa benci luar biasa Ramabargawa terhadap kaum kesatria.

Setelah menumpas kaum kesatria, Ramabargawa merasa jenuh dan memutuskan untuk meninggalkan dunia. Atas petunjuk dewata, ia akan mencapai surga apabila mati di tangan titisan Wisnu. Adapun Ramabargwa versi Jawa bukan titisan Wisnu. Sebaliknya, Wisnu dikisahkan menitis kepada Arjuna Sasrabahu yang menurut versi asli adalah musuh Ramabargawa.

Setelah lama mencari, Ramabargawa berhasil menemui Arjuna Sasrabahu. Namun saat itu Arjuna Sasrabahu telah kehilangan semangat hidup setelah kematian sepupunya, yaitu Sumantri, dan istrinya, yakni Dewi Citrawati. Dalam pertarungan tersebut, Ramabargawa justru malah menewaskan Arjuna Sasrabahu.

Ramabargawa kecewa dan menuduh dewata telah berbohong kepadanya. Batara Narada selaku utusan kahyangan menjelaskan bahwa Wisnu telah meninggalkan Arjuna Sasrabahu untuk terlahir kembali sebagai Rama putra Dasarata. Ramabargawa diminta bersabar untuk menunggu Rama dewasa. Beberapa tahun kemudian, Ramabargawa berhasil menemukan Rama yang sedang dalam perjalanan pulang setelah memenangkan sayembara Sinta. Ia pun menantang Rama bertarung. Dalam perang tanding tersebut, Ramabargawa akhirnya gugur dan naik ke kahyangan menjadi dewa, bergelar Batara Ramaparasu.

Pada zaman berikutnya, Ramaparasu bertemu awatara Wisnu lainnya, yaitu Kresna ketika dalam perjalanan sebagai duta perdamaian utusan para Pandawa menuju Kerajaan Hastina. Saat itu Ramaparasu bersama Batara Narada, Batara Kanwa, dan Batara Janaka menghadang kereta Kresna untuk ikut serta menuju Hastina sebagai saksi perundingan Kresna dengan pihak Kurawa. Kisah ini terdapat dalam naskah Kakawin Bharatayuddha dari zaman Kerajaan Kediri.

Di Bali diceritakan bahwa ia dan Arjuna Sasrabahu sama-sama merupakan titisan Wisnu.

***
Dalam versi india mengisahkan,
Saat Maharsi Narada berkunjung ke Vaikuntha dan tanpa sengaja menemukan Cakram Sudarshana dengan Bhatara Wisnu sedang berselisih paham. Sang cakram yang memiliki kesadaran sendiri itu bilang bahwa Wisnu takkan bisa mengalahkan Asura manapun tanpa dirinya dan dirinyalah yang selama ini menjadi kekuatan Wisnu, tanpa dirinya Wisnu bukan siapa-siapa.

Tampaknya Wisnu menjadi agak sebal dengan tingkah senjatanya itu dan akhirnya menyuruhnya pergi ke dunia dan menitis menjadi seorang raja bernama Arjuna Sasrabahu. Wisnu sendiri berjanji kelak akan menyusul dan menitis kepada seorang putra brahmana. Setelah itu mereka akan baku hantam untuk menyelesaikan perdebatan mereka.

Arjuna Sasrabahu memang akhirnya bertemu Parasurama dan bertempur yang menyebabkan kekalahan bagi Arjuna Sasrabahu.

***
• Di Myanmar, Laos, Thailand, Vietnam dan Kamboja, Parasurama bukanlah Awatara Wisnu yang populer. Apalagi di Nusantara – yang raja-rajanya ‘agak’ tidak mau dikritik dan disalahkan. Karena itu di Nusantara, Awatara keenam Wisnu diubah. Bukan Parasurama, tapi Arjuna Sasrabahu.
• Model pengakuan Awatara Keenam Wisnu adalah Arjuna Sasrabahu juga terasa di Bali, di mana ada kisah yang menceritakan baik Arjunasasrabahu maupun Parasurama sama-sama adalah awatara Wisnu – mengambil pendekatan seperti Nara dan Narayana, rsi kembar yang sama-sama Awatara Wisnu dalam versi 22 Awatara.
• Parasurama adalah awatara Wisnu paling ‘brangasan’ nomor dua setelah Narasinga.
• Parasurama dipercaya masih hidup sampai saat ini.
• Pasangan Parasurama yang bernama Dharini tidak pernah diceritakan mendampingi Parasurama saat Parasurama menjadi guru Bhisma, Drona, dan Karna. Kemungkinan besar istri Parasurama ini sudah meninggal lama sekali sebelum peristiwa Mahabaratha atau mungkin sebelum Ramayana.
• Setelah tak lagi menjadi awatara Wisnu, kekuatan Parasurama jauh berkurang meski masih cukup berbahaya untuk dihadapi para kesatria manapun yang ada di zaman itu.

AWATARA KELIMA – WAMANA AWATARA

Nama lain : Vamana, Aditya, Upendra, dan Triwikrama
Arti Nama : Si Pendek (Wamana), Putra Aditi (Aditya), Penguasa Tiga Dunia (Triwikrama), Saudara Lelaki Indra (Upendra)
Ras : Manusia Awatara (Awatara Wisnu).
Masa Kemunculan : Treta Yuga.
Senjata : Payung dan kendi air.
Lawan Utama : Mahabali.

Meskipun sudah mendapatkan Tirta Amerta, ada masanya para dewa mengalami kekalahan. Mahabali, Raja Asura yang sempat kena tipu Mohini pada masa Satya Yuga kini kembali untuk menantang para dewa. Dengan bantuan Sukracarya (salah satu Graha – penguasa Venus dan guru para Asura), ia memperoleh kekuatan dan pasukan yang cukup kuat untuk melawan Dewata kembali.  Indra dan Dewata lainnya yang merasa terdesak dinasehati untuk meninggalkan Swargaloka karena jika tetap tinggal, mereka akan benar-benar ditaklukkan Mahabali. Maka sekali lagi Dewata dipaksa meninggalkan kahyangan dan Mahabali pun mengangkat dirinya menjadi raja tiga dunia : dunia manusia, dunia dewa, dan dunia alam baka. Di dunia manusia, Mahabali meraih popularitas luar biasa di kalangan manusia oleh karena kemurahan hati dan keadilannya. Ia tidak memaksa manusia tunduk padanya dengan cara anarkisme seperti Raja-Raja Asura yang sebelumnya sehingga meskipun Raja Kahyangan bukan lagi Indra, sebagian besar manusia tidak protes.

Tapi tentu saja Indra yang diusir dari kahyangan tidak terlalu suka dengan kehadiran Mahabali. Ia sempat beberapa kali meminta para Trimurti ambil tindakan, tapi Wisnu belum mau ambil tindakan sampai tiba masanya ketika Mahabali sudah mulai merasa bahwa ia adalah entitas paling mulia, tak ada lagi makhluk yang lebih tinggi dari dirinya.

Saat itulah Wisnu menjelma melalui perantaraan Kashyapa dan Aditi, lahir sebagai putra Aditi, berwujud anak cebol yang kemudian menjadi brahmana seperti Kashyapa. Anak ini diberi nama oleh Aditi dan Kashyapa dengan nama Wamana, artinya ‘Si Pendek’.

Pada suatu ketika Mahabali mengadakan ‘open house’ dan mengundang segenap orang, terutama brahmana untuk bertandang ke istananya di Swargaloka. Wamana pun turut datang menemui Mahabali sambil membawa-bawa payung dan kendi air. Sukracarya – guru Mahabali – yang melihat kedatangan Wamana langsung kaget setengah mati. Ia lalu memperingatkan Mahabali dengan keras supaya Mahabali tidak memberikan apapun yang diminta Wamana.

Tapi Mahabali keras kepala. Dalam pandangannya, brahmana ini meskipun masih berwujud anak kecil (atau orang cebol) punya kharisma yang luar biasa. Mahabali menempatkan Wamana di tempat duduk kehormatan dan menanyakan apa permintaan Wamana.

“Apakah Paduka menginginkan tanah, emas, istana, atau gadis yang cantik?
Apakah menginginkan hewan gajah, kuda atau kijang?
Kami akan memberikan apa pun yang kami miliki yang diinginkan Paduka Brahmana,” tanya Bali.

Wamana menjawab pelan, “Kau telah berbicara penuh kerendahan hati, kebajikan dan kebangsawanan.  Sukra agung dan Brighu adalah Acaryamu, Gurumu. Prahlada Yang Agung adalah kakekmu, Wirocana Yang Dermawan adalah ayahmu. Aku yakin Raja tidak akan menarik mundur ucapanmu. Aku ingin tanah tiga langkah yang diukur oleh kakiku.”

Setengah kecewa karena sang brahmana kecil hanya meminta hal yang sepele baginya, Bali berucap, “Tentu saja Paduka masih anak-anak, bahasa anak-anak, permintaannya masih sederhana. Baik, Paduka tidak mau minta tumpukan emas dan hanya tanah tiga langkah? Aku pegang kata-kataku.”

Sambil tersenyum Vamana menjawab, “Aku menghargaimu Raja dermawan. Jika seorang manusia tidak bisa menaklukkan keinginan, semua hal di dunia tidak akan mencukupinya.”

Sekali lagi Sukracarya mewanti-wanti Mahabali, “Diriku mencintai semua Asura dan Raja Bali adalah murid terkasihku. Kamu telah gegabah Raja! Kau belum tahu soal langkah kaki Narayana! Memang menarik janji, membatalkan komitmen itu seperti menarik pohon dari tanah yang membuat cepat mengering dan jatuh. Akan tetapi dalam keadaan darurat Raja boleh ingkar janji. Raja belum tahu siapa sejatinya Brahmana kecil ini.”

Bali hanya menjawab, “Guru, dalam darahku mengalir darah nenek buyut Kayadhu yang suci, mengalir darah kakek Prahlada yang agung, diriku malu, merupakan keaiban untuk menarik perkataan. Kalaupun Brahmana ini adalah Narayana, maka pemberianku ini akan menjadi perbuatan mulia: memberi, telapak tangan menghadap ke bawah terhadap Narayana.”

Sukracarya pun menjadi marah dan akhirnya mengutuk Mahabali, “Raja telah merasa lebih bijak dariku. Aku kutuk sehingga kemuliaanmu segera punah.” Dan setelah itu Sukracarya pun pergi meninggalkan istana Mahabali.

Ketika kembali menemui brahmana kecil itu, Mahabali mendapat kejutan besar. Sesuatu yang ditakutkan oleh Sukracarya terjadi. Tubuh Wamana membesar dan terus membesar, wujud ini dinamakan Triwikrama. Kakinya konon bertambah menjadi tiga. Kaki pertamanya menutupi seluruh bumi, kaki keduanya menutupi seluruh kahyangan dan konon dari atas langit turun Baruna – dalam wujud naga – yang langsung melilit Mahabali dengan dibantu oleh Garuda.

“Belum tiga langkah, Raja,” kata Wamana.

Mahabali langsung tahu apa yang diminta oleh Wamana. Wamana memintanya untuk menyerahkan kembali hak kekuasaan Dewata pada para Aditya. Karena itu Bali berucap, “Diriku menyadari kesalahanku, aku berjanji dapat  memberikan semua milikku. Ternyata semuanya adalah milik-Mu. Terima kasih Narayana, hamba paham dengan menerima persembahan hamba, berarti semua kesalahan hamba telah diampuni. Terima kasih Narayana, biarlah langkah kaki ketiga-Mu, Engkau letakkan di kepala kami.”

Dan terjadilah demikian. Selanjutnya ada dua versi mengenai nasib Mahabali. Versi pertama menyatakan ia mati, versi kedua menyatakan ia tetap hidup. Tapi apapun versinya, semuanya bersepakat soal janji Wamana kepada Mahabali.

Mahabali adalah cucu Prahlada – putra Hiranyakasipu (lihat pembahasan Narasinga Awatara), karena itulah ia tidak seberingas Asura lainnya. Dan ketika Wisnu menyaksikan bahwa Bali tidak menentang otoritas kekuasaan Trimurti seperti pendahulu-pendahulunya, ia menjanjikan Bali akan terlahir kembali di Sutala – bagian dari Pratala (alam baka), dan pada Mahayuga selanjutnya ialah yang akan menjadi Indra. Untuk sementara di Sutala, ia menjadi asisten Batara Yama, mengurusi jiwa-jiwa orang mati.

• Ada sekte tertentu di India yang tidak mempercayai Wamana sebagai Awatara Wisnu melainkan Awatara Ganesha.
• Indra selalu berganti-ganti setiap Mahayuga. Indra pertama adalah Yajna, atau Wisnu sendiri. Baruna – penguasa lautan – pun dikatakan pernah menjadi Indra.
• Baruna punya dua wujud : wujud naga dan manusia. Tapi sebenarnya dia juga Aditya, dengan kata lain dia adalah ‘kakak’ dari Wamana dan Indra.
• Mahabali konon merupakan singkatan dari ‘Mahatma Bali’ yang artinya ‘Bali Yang Berjiwa Besar’.
• Mahabali adalah cucu Prahlada, dan dia termasuk dalam golongan Danawa.
• Narayana adalah nama lain Wisnu.

AWATARA KEEMPAT - NARASIMHA AWATARA


Nama lain : Narasinga, Narasingh, Narasimh
Arti Nama : Separuh Manusia (Nara) Separuh Singa (Simha)
Ras : Awatara Wisnu
Wujud : Manusia Berkepala Singa
Masa Kemunculan : Akhir Satya Yuga
Lawan Utama : Hiranyakasipu

Pada zaman ini, setiap orang berhak memuja Istadewata (Dewa Utama) –nya masing-masing. Ada yang memuja Brahma, Wisnu, Siwa, Indra, Bayu, Baruna, atau yang lainnya. Tetapi karena saudara lelakinya (Hiranyaksa) dibunuh oleh Wisnu beberapa tahun yang lalu, Hiranyakasipu menjadi sangat marah dan bersumpah tidak akan pernah memuja dewa yang namanya Wisnu, bahkan ia bersumpah akan melenyapkan Wisnu dan seluruh pemuja Wisnu dari kerajaannya.

Pemaksaan kehendak paling efektif dilakukan dengan anarki, hal itu dapat dilakukan kalau dirinya memiliki kesaktian. Maka Hiranyakasipu pun mulai bertapa dengan keras, memusatkan perhatiannya hanya kepada Bhatara Brahma selama bertahun-tahun. Brahma pun harus menepati hukum yang berlaku, di mana setiap makhluk yang melakukan tapa dengan sungguh-sungguh harus dikabulkan keinginannya.
Ketika Brahma berkenan untuk muncul dan menanyakan keinginannya, Hiranyakasipu menyatakan bahwa ia ingin diberikan kehidupan abadi yang tidak bisa mati dan tidak bisa dibunuh, Namun Dewa Brahma menolak, dan menyuruhnya untuk meminta permohonan lain.

Tak hilang akal, Hiranyakasipu meminta anugrah agar dia tidak bisa dibunuh oleh dewa, manusia ataupun hewan, baik saat pagi siang maupun malam, baik saat ia berada di langit maupun berpijak di bumi, baik oleh api, air ataupun senjata, baik saat ia ada di dalam maupun luar kediamannya. Mendengar permohonan tersebut, Dewa Brahma mengabulkannya.

Setelah mendapatkan kekuatan itu, ia melarang semua orang di kerajaannya memuja dewa lain selain Siwa (dan Brahma), dan perintah itu juga hendak ia berlakukan juga bagi istrinya. Yang bernama Lilawati. Bhatara Indra yang tahu akan rencana Hiranyakasipu langsung mengevakuasi Lilawati dari istana Hiranyakasipu.

Ketika Bhatara Indra memberi perlindungan pada Lilawati, Lilawati tengah hamil tua dan beberapa waktu kemudian melahirkan seorang putra bernama Prahlada. Lilawati dan Prahlada tinggal dalam perlindungan dan ajaran Rsi Narada – brahmana pemuja Wisnu, salah satu dari tujuh Sapta Rsi.

Anak itu dididik oleh Narada untuk menjadi anak yang budiman, menyuruhnya menjadi pemuja Wisnu, dan menjauhkan diri dari sifat-sifat keraksasaan ayahnya.
Hiranyakasipu beberapa kali mencoba membujuk anaknya untuk meninggalkan Wisnu tapi Prahlada tidak mau. Mengetahui para dewa melindungi istri serta anaknya, Hiranyakasipu menjadi sangat marah. Ia semakin membenci Dewa Wisnu, dan anaknya sendiri.

Kesal dengan sikap anaknya, Hiranyakasipu berkali-kali mencoba membunuh anaknya dengan berbagai metode : dijatuhkan dari tebing, ditebas, dipukuli, sampai dihantam dengan astra, tapi anehnya Prahlada ternyata tidak juga mati.
Setiap kali ia membunuh putranya, ia selalu tak pernah berhasil karena dihalangi oleh kekuatan gaib yang merupakan perlindungan dari Dewa Wisnu. Ia kesal karena selalu gagal oleh kekuatan Dewa Wisnu, namun ia tidak mampu menyaksikan Dewa Wisnu yang melindungi Prahlada secara langsung. Ia menantang Prahlada untuk menunjukkan Dewa Wisnu.
Saat ayah dan anak itu bertemu di istana Hiranyakasipu, Sang Raja Ashura menantang Prahlada.
Hiranyakasipu : “Katakan di mana aku bisa temukan Wisnu! Biar kutantang dia bertarung!”
Prahlada : “Ia ada dimana-mana, Ia ada di sini, dan Ia akan muncul.”

Mendengar jawaban itu, ia merasa diolok-olok dengan perkataan anaknya, hiranyakasipu sangat marah, mengamuk dan menghancurkan segala sesuatu didekatnya. Hiranyakasipu memukul salah satu pilar istananya hingga retak menjadi dua bagian. Tiba-tiba terdengar suara yang menggemparkan dari pilar yang seharusnya kosong, keluarlah sesosok manusia raksasa berkepala singa. Sosok ini memiliki empat tangan dan memanggul seekor naga di punggungnya. Dan sosok ini lah yang disebut Narasinga, Awatara Wisnu.
Narasinga datang untuk menyelamatkan Prahlada dari amukan ayahnya sekaligus menghukum Hiranyakasipu atas perbuatannya.

Hiranyakasipu pun maju menyerang Narasinga. Pertarungan dua makhluk ini berlangsung sampai senja. Ketika senja mulai turun, Narasinga mencengkeram Hiranyakasipu, mendudukkannya di pangkuannya lalu mencabik-cabik perut Hiranyakasipu dengan kukunya. Tindakan ini membuat berkah dari Brahma tidak berlaku karena :
✔Narasinga bukan manusia, binatang, ataupun dewa. Ia adalah perwujudan ketiganya.
✔Hiranyaksipu dibunuh bukan saat pagi, siang, atau malam melainkan senja – peralihan dari siang menuju malam.
✔Hiranyaksipu tidak dibunuh dengan senjata, air, atau api melainkan oleh kuku Narasinga.
✔Hiranyaksipu tidak dibunuh di luar ataupun di dalam kediamannya, bukan pula di darat atau udara. Ia dibunuh di pangkuan Wisnu.

Narasinga memberi contoh bahwa Tuhan itu ada dimana-mana.
Rasa bakti yang tulus dari Prahlada menunjukkan bahwa sikap seseorang bukan ditentukan dari golongannya, ataupun bukan karena berasal dari keturunan yang jelek, melainkan dari sifatnya. Meskipun Prahlada seorang keturunan Asura, namun ia juga seorang penyembah Wisnu yang taat.

• Naga yang dipanggul Narasinga adalah Ananta Sesa. Pada kesempatan-kesempatan berikutnya Ananta Sesa setidaknya dua kali turut mendampingi penjelmaan Wisnu ke dunia, yakni sebagai Laksmana – saudara Rama – dan Baladewa – saudara Kresna.
• Narasinga adalah awatara Wisnu paling buas dan ‘brangasan’.

Dalam satu versi diceritakan : setelah membunuh Hiranyakasipu, ia lepas kontrol dan tak terkendali. (Aksi Narasinga baru berhenti setelah Siwa turun ke dunia dan bertempur melawan Narasinga)
Pembahasan selanjutnya...

AWATARA KETIGA - WARAHA AWATARA


“Kau mengatakan bahwa dirimu pembela para Ashura dan ingin membersihkan jalan Ashura dari duri yang melukainya. Aku kau anggap duri. Bukan, Aku bukan duri, Aku Maha Pembalas Kejahatan.”
–Waraha Awatara–

Ras : Awatara Wisnu
Wujud : Celeng / babi hutan
Masa Kemunculan : Akhir Satya Yuga
Lawan Utama : Hiranyaksa

Pada peristiwa di masa kemunculan Matsya Awatara, Banjir besar menerjang bumi dan menenggelamkan seluruh daratan. Tapi sebenarnya yang terjadi lebih parah daripada itu.

Konon bumi terjerumus ke dalam kekacauan Mahapralaya. Pada mulanya semuanya tenang dan damai sampai akhirnya Wisnu yang mulanya tertidur memunculkan sebuah sulur yang menunjang sebuah bunga teratai raksasa di ujungnya. Dari dalam bunga teratai itu munculah Brahma.

Brahma yang kaget dipanggil ‘mendadak’ seperti itu langsung menyaksikan yang ada di dunia ini hanya ada kekacauan. Kekagetan keduanya adalah ia duduk di atas bunga teratai raksasa yang pangkalnya tak terlihat, tak peduli seberapa jauhnya Brahma mencoba turun. Akhirnya Brahma menyerah mencari pangkal teratai itu dan memilih untuk melakukan tapa. Dalam tapanya Beliau mendapat ‘pesan’ dari Wisnu. “Brahma, waktunya Anda menciptakan kembali dunia dan segala isinya sekali lagi.”

Brahma kembali bertapa. Dalam tapanya ia memunculkan sepuluh Prajapati antara lain : Atri, Angirasa, Pulastya, Pulaha, Kratu, Bhrigu, Daksa, Marici, Wasishta, dan Narada. Selain itu juga lahir entitas bernama Dharma dan Adharma. Lalu ia menciptakan pasangan Manu : Swayambhu Manu dan istrinya Satarupa. Swayambhu Manu, Prajapati, dan Brahma kemudian mulai mengukir isi bumi sekali lagi.

Tapi setelah beberapa lama, Brahma merasa ada yang ‘tidak beres’. Penciptaan berjalan amat lambat sehingga Brahma memanggil kembali Swayambhu Manu dan bertanya apa masalahnya sehingga pekerjaan Swayambhu terhambat.

Dan Sang Manu menjawab, “Saya bekerja sebagaimana Ayahanda perintahkan, tapi bumi sedang tenggelam!”

Brahma berpikir sejenak. Prajapati dan Manu jelas tidak cukup kuat untuk mengeluarkan bumi dari lautan. Akhirnya ia memutuskan untuk minta bantuan Wisnu. Dari lubang hidung Brahma keluarlah seekor celeng (babi hutan) sebesar kelingking Brahma. Celeng itu langsung membesar menjadi celeng raksasa, Waraha Awatara. Waraha kemudian mengangkat bumi dari dalam samudera dan terus menopangnya sampai daratan-daratan bumi benar-benar stabil.

Di antara para Prajapati ada seorang yang bernama Kashyapa. Kashyapa beristrikan 13 orang putri Daksha – yang notabene adalah saudaranya laki-lakinya. Setiap menjelang matahari terbenam, para Prajapati – termasuk Kashyapa – biasanya melakukan pemujaan pada Brahman (dalam wujud Trimurti), dalam hal ini Kashyapa hendak memuja Siwa.

Tiba-tiba salah satu istrinya, Diti, datang pada Kashyapa dan minta ‘dilayani di ranjang’. Kashyapa sih mau-mau saja melayani istrinya yang satu ini, tapi ia harus melaksanakan upacara pemujaan sehingga ia mengatakan, “Tentu Diti, tapi nanti. Ini waktu suci pemujaan.”

Tapi Diti tidak mau menunggu dan dalam benaknya timbul pikiran, “Idih, suamiku sok suci banget! Seberapa kuat sih suamiku bakal bertahan?”

Diti pun mengambil inisiatif ‘ganas’ sehingga Kashyapa pun ‘takluk’.

Kesalahan besar bagi Kashyapa dan Diti!
"Melakukan" saat suaminya hendak memuja Siwa menghantarkannya pada kutukan. Diti kemudian mengandung dan kelak akan melahirkan dua Ashura. Yang satu bernama Hiranyaksa dan yang satu lagi bernama Hiranyakashipu.

Ashura terkenal sekali dengan kekuatan mereka yang setara dewa dan hobi mereka yang suka berbuat onar. Ashura yang bisa mengontrol emosinya bisa saja menjadi dewa, tapi Hiranyaksa tidak termasuk salah satunya. Ia punya pemikiran “Untuk menjadi dewa, aku harus mengalahkan dewa-dewa dan merebut tahta mereka.”

Jadi itulah yang dia lakukan. Ia menghajar para dewa, minus Baruna, dan menaklukkan tiga dunia (Patala dan Naraka – alam baka, Swargaloka – kahyangan, dan Arcapada – dunia manusia).  Sampai ia menyadari bahwa ada empat dewa yang belum mengakui kehebatannya : Tiga Trimurti dan Baruna. Ia tidak mengacuhkan Baruna, Siwa tidak diketahui rimbanya, Brahma adalah kakeknya – jadi ia tidak mau melawannya, jadi satu-satunya Trimurti yang hendak ia tantang adalah Wisnu.

Ketika ia berkeliling mencari Wisnu, ia bertemu Baruna yang sedang dalam wujud ular raksasa dan menantangnya berkelahi. Baruna menolak berkelahi dan menyatakan bahwa lawannya yang sebanding dengannya adalah Wisnu. Ia menyuruh Hiranyaksa mencari Narada guna menanyakan keberadaan Wisnu.

Narada menunjukkan tempat Wisnu berdiam pada Hiranyaksa dengan ‘senang hati’, “Kamu ingin berkelahi dengan Wisnu? Dia sedang mengambil wujud Waraha, Celeng Raksasa. Dia sedang di Rasatala, sedang mengangkat bumi.”

Singkat cerita, Hiranyaksa ‘mengganggu’ Waraha yang tengah menopang bumi. Hiranyaksa menyatakan dirinya sebagai pembela Ashura dan hendak membersihkan jalan Ashura dari duri yang melukai mereka.

Wisnu langsung menggeram, “Aku sedang menjadi binatang buas maka Aku mendengar ocehanmu. Kau mengatakan bahwa dirimu pembela para Ashura dan ingin membersihkan jalan Ashura dari duri yang melukainya. Aku kau anggap duri. Bukan, Aku bukan duri, Aku Maha Pembalas Kejahatan. Sudah banyak sekali korban kejahatanmu. Sudah berulang kali kau menggunakan kekerasan dalam memaksakan kehendakmu. Kau telah menakut-nakuti manusia dengan menebar ancaman. Aku tidak suka kekerasan, tetapi Aku sedang mewujud menjadi binatang buas, mari bertarung! Saatnya kau mempertanggung-jawabkan kekerasan yang telah kau lakukan berkali-kali.”

Jadi dua makhluk itu pun bertarung. Saat mereka bertarung konon segala bencana terjadi di muka bumi. Ombak dan gelombang besar menggelora di seluruh samudra, gempa bumi di mana-mana, semua gunung meletus, dan topan mengamuk di berbagai tempat. Konon pertarungan ini berlangsung selama 1000 tahun sebelum akhirnya Hiranyaksa terbunuh oleh Waraha.

Setelah Beliau memenangkan pertarungan, Beliau mengangkat bumi yang bulat seperti bola dengan dua taringnya yang panjang mencuat, dari lautan kosmik, dan meletakkan kembali bumi pada orbitnya. Setelah itu, Dewa Wisnu menikahi Dewi Pertiwi dalam wujud awatara tersebut.
Waraha Awatara dilukiskan sebagai babi hutan yang membawa planet bumi dengan kedua taringnya dan meletakkannya di atas hidung, di depan mata. Kadangkala dilukiskan sebagai manusia berkepala babi hutan, dengan dua taring menyangga bola dunia, bertangan empat, masing-masing membawa: cakra, terompet dari kulit kerang (sangkakala), teratai, dan gada.

• Diti tidak pernah melahirkan anak-anak yang ‘beres’. Nyaris semua anaknya adalah Ashura dan nasib mereka selalu berakhir dengan dibunuh oleh Wisnu atau Dewata, kecuali anaknya yang terakhir. Berbeda sekali dengan saudarinya Aditi yang melahirkan para dewa golongan Adhitya.
• Pertarungan Waraha dengan Hiranyaksa adalah pertarungan Wisnu yang paling lama sebagai Awatara. Jadi boleh dikata, Hiranyaksa adalah salah satu Ashura paling kuat.
• Daksha – saudara Kashayapa – adalah ayah mertua Siwa.

Senin, 23 Mei 2016

AWATARA PERTAMA – MATSYA AWATARA

Ras                        : Awatara Wisnu
Wujud                    : Ikan Raksasa
Masa Kemunculan : Satya Yuga
Lawan Utama.      : Ashura Hayagriva

Suatu ketika Brahma yang kelelahan setelah selesai menciptakan suatu Yuga memutuskan untuk tidur dan beristirahat. Kala Brahma tengah tertidur itulah, sesosok Ashura bernama bernama Hayagriva memasuki Brahmaloka dan mencuri Veda dari Brahma. Wisnu yang tengah mengawasi dunia dari Vaikuntha langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang diambil dari Brahmaloka. Ia juga melihat sang Ashura Hayagriva turun dari Brahmaloka dan menyelam ke dalam laut, bersembunyi di sana.

Di saat yang sama Wisnu melihat seorang raja (Manu / Prajapati) bernama Vaivasvata Manu sudah sejak lama berdoa supaya ia bisa bertemu dengan Wisnu. Karena meskipun ia putra Brahma, sulit sekali baginya untuk bisa bertemu Wisnu. Sadar bahwa Veda akan jadi sangat berbahaya di tangan Ashura, Wisnu akhirnya turun ke dunia dan menjelma menjadi seekor ikan kecil yang berenang di sungai tempat Manu Vaivasvata biasa minum dan berdoa.

Saat Sang Manu menangkupkan tangannya untuk minum, ia mendapati seekor ikan kecil di antara kedua tangannya. Ikan kecil itu memohon agar Sang Manu bersedia membawanya menjauh dari sungai. Sang Manu menyanggupi permohonan Sang Ikan dan memasukkan ikan itu ke dalam kamandalam – teko air dari bahan logam – miliknya. Sesampainya di istana ia tetap membiarkan sang ikan dalam kamandalam, namun esok harinya ia mendengar si ikan berteriak minta tolong dan mendapati Sang Ikan sudah membesar seukuran kamandalamnya. Ia segera memasukkan ikan itu ke dalam tempayan dan tak lama kemudian ikan itu tumbuh sebesar tempayan, ia beralih menuang ikan itu ke dalam gentong air dan didapatinya ikan itu kembali membesar dengan kecepatan luar biasa.

Karena kehabisan akal, Sang Manu segera membopong ikan itu ke sungai tempat ia menemukannya dan menceburkan ikan itu ke sungai itu. Sekali lagi ikan itu membesar dengan kecepatan yang tidak wajar. Pada akhirnya Sang Manu memutuskan melempar ikan itu ke laut dan saat itu jugalah ikan itu membesar ke ukuran maksimalnya dan sebuah tanduk tumbuh di dahinya. Ukurannya ini melebihi ukuran Ashura manapun yang ada di bumi saat itu.

Sang Manu langsung bersimpuh ketika menyadari siapa sebenarnya ikan ini. Manu Vaivasvata menyatakan diri bersedia memberikan pertolongan apapun pada Wisnu tapi Wisnu mengatakan bahwa ia kemari untuk menolong Sang Manu. Ia meminta Sang Manu membuat bahtera besar dan membawa segala benih tanaman dan aneka hewan yang ada di muka bumi, serta seluruh Saptarsi (Tujuh Rsi) bersama keluarga mereka, karena Yuga ini akan segera musnah diterjang air bah. Ia juga memerintahkan Sang Manu untuk mengajak serta Raja Naga Vasuki (Basuki) supaya Sang Manu bisa menggunakan naga itu sebagai tali pengait antara bahteranya dengan tanduk Matsya.

Manu menyanggupi perintah Sang Ikan dan segera pulang untuk mengerjakan bahtera yang dimaksud. Sementara itu Matsya menyelam ke dasar samudera untuk mencari Hayagriva. Begitu menemukan Sang Ashura, Matsya langsung menyerangnya tanpa ampun. Pertarungan Matsya dan Hayagriva berlangsung relatif sebentar dibandingkan pertarungan Wisnu dengan Ashura lainnya (hanya beberapa hari). Ketika Hayagriva tewas, Matsya mengambil kembali lontar Veda yang sempat dicuri dan berenang kembali ke permukaan.

Di permukaan ia dapati Sang Manu telah menyelesaikan bahteranya. Basuki segera melilitkan ekornya di badan kapal sementara lehernya ia lilitkan ke tanduk Matsya. Setelah itu Matsya segera menghela bahtera Manu menjauh dari daratan.

Air bah dan badai berkepanjangan menerjang tak berapa lama kemudian dan Matsya membawa bahtera itu ke sebuah tempat yang aman, daratan yang tidak terjangkau air bah, dan menurunkan seluruh penumpang bahtera di sana. Sesudah tugasnya selesai, Sang Matsya kembali menjadi sosok Wisnu dan terbang kembali ke Vaikuntha.

• Hayagriva selain merupakan nama Ashura juga merupakan salah satu awatara Wisnu versi Bhagavata Purana.

• Selama bahtera ditarik oleh Matsya, para Manu dan Saptarsi ‘diajak ngobrol’ oleh Matsya (soal Veda tentunya)

• Basuki adalah adik dari Ananta Sesa, Ananta Sesa sendiri adalah naga yang mengabdi pada Wisnu.

• Vaisvata Manu dan Saptarsi akan menurunkan manusia-manusia yang ada di muka bumi setelah bumi mengering.