Tampilkan postingan dengan label siwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label siwa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Mei 2016

AWATARA SIWA - SARABHA AWATARA


Nama Lain             : Sharabha, Sarabesvara
Arti Nama.            : Jiwa Yang Bersinar / Pembebas
Ras                        : Awatara Siwa
Masa Kemunculan : Akhir Satya Yuga
Lawan Utama        : Narasinga Awatara

Sarabha digambarkan sebagai sesosok makhluk yang memiliki karakteristik sama dengan Narasinga yakni makhluk campuran. Bedanya, jika Narasinga adalah separuh manusia – separuh singa, Sarabha adalah makhluk separuh singa-separuh burung. Penggambaran Sarabha bermacam-macam. Ada yang menggambarkan Sarabha sebagai burung raksasa bertangan singa, ada pula yang menggambarkannya sebagai makhluk bertubuh singa, berkepala burung garuda, dan berbelalai gajah. Selain itu ada juga yang menggambarkan Sarabha sebagai singa berkaki delapan, bertubuh manusia, dan berkepala burung.

Apapun penggambarannya, mereka semua sepakat bahwa Sarabha memiliki karakteristik gabungan singa dan burung pemangsa dan jelas sekali memiliki kekuatan yang cukup dahsyat untuk menandingi Narasinga Awatara.

Sarabha adalah awatara Siwa yang muncul pasca Narasinga Awatara mengalahkan Asura Hiranyakasipu. Saat menghabisi Hiranyakasipu, Narasinga meminum setiap tetes darah Hiranyakasipu dan mencabik-cabik jasad Asura itu menjadi serpihan-serpihan kecil kemudian mengalungkannya pada dirinya sendiri. Hal itu Narasinga lakukan supaya tidak ada lagi sisa-sisa tubuh fisik Hiranyakasipu yang melakukan kontak dengan semesta.

Tapi Wisnu yang mengambil wujud Narasinga itu rupanya telah lepas kontrol. Pasca menghabisi Hiranyakasipu, Narasinga melampiaskan amarahnya ke dunia manusia dan membuat kekacauan di mana-mana. Prahlada dan Laksmi kemudian muncul di hadapan Narasinga dan memintanya untuk tenang, tapi Narasinga tidak mengacuhkan mereka. Para dewa pun berusaha menghalangi Narasinga tapi upaya mereka juga tidak berhasil. Karena itu mereka memohon pada Siwa untuk memberikan bantuan kepada mereka.

Siwa sekali lagi mengutus Virabhadra untuk maju perang, tapi kekuatan Virabhadra ternyata tidak sebanding dengan Narasinga Awatara. Ketika tahu bahwa salah satu prajurit terbaiknya telah dikalahkan, Siwa turun ke bumi dan mengambil sosok separuh singa dan separuh burung bernama Sarabha. Dalam versi yang menyatakan bahwa Virabhadra adalah aspek lain Siwa, bukan makhluk ciptaannya, Siwa langsung mengambil rupa sebagai Sarabha setelah mendapati bahwa dalam wujudnya sebagai Virabhadra, Narasinga masih belum bisa dikalahkan.

Sarabha dan Narasinga pun bertemu dan pertarungan antara dua awatara penjelmaan kedua Trimurti itu pun tak terhindarkan. Delapan belas hari kemudian Narasinga takluk di hadapan Sarabha. Sarabha kemudian membunuh Narasinga Awatara guna mengembalikan jiwa Wisnu ke tempat asalnya yakni Vaikuntha. Versi lain menyatakan bahwa Narasinga langsung tersadar dari ‘kegilaannya’ dan langsung memuja Sarabha yang tak lain adalah Siwa.

• Dalam satu versi, Narasinga Awatara berubah rupa menjadi Gandaberunda – sosok makhluk buas berwujud burung berkepala dua – saat melawan Sarabha.

• Sarabha adalah satu-satunya perwujudan Awatara Siwa yang ‘penuh’, bukan hanya manifestasi sebagian kekuatannya semata seperti awatara-awatara sebelumnya.

• Pasca dikalahkan Sarabha, Wisnu tidak pernah lagi mengambil wujud awatara hewan (atau separuh hewan).

“Aku memberi hormat kepada Dewa Pertama yang adalah Brahman, insan terbaik, ayah semesta, yang teragung di antara para dewa, yang menciptakan Brahma dan memberikan seluruh kitab Veda kepada Brahma pada permulaan masa, yang adalah ayah Wisnu dan segala dewa, satu-satunya yang berhak dipuja, dan tetap ada ketika banjir besar menyapu dunia. Ia adalah yang lebih besar dari setiap insan manapun, insan terbaik dan penguasa segala makhluk.

Ia adalah Maheswara, ia mengambil bentuk sebagai Sarabha lalu membunuh Narasinga yang telah memporakporandakan dunia. Sarabha, dengan kuku tajamnya, mengoyak Wisnu yang tengah mengambil wujud Narasinga. Dia adalah yang telah mengambil rupa sebagai Veerabhadra.”

(Sarabha Upanishad, ayat 1-4)

Senin, 23 Mei 2016

AWATARA PERTAMA – MATSYA AWATARA

Ras                        : Awatara Wisnu
Wujud                    : Ikan Raksasa
Masa Kemunculan : Satya Yuga
Lawan Utama.      : Ashura Hayagriva

Suatu ketika Brahma yang kelelahan setelah selesai menciptakan suatu Yuga memutuskan untuk tidur dan beristirahat. Kala Brahma tengah tertidur itulah, sesosok Ashura bernama bernama Hayagriva memasuki Brahmaloka dan mencuri Veda dari Brahma. Wisnu yang tengah mengawasi dunia dari Vaikuntha langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang diambil dari Brahmaloka. Ia juga melihat sang Ashura Hayagriva turun dari Brahmaloka dan menyelam ke dalam laut, bersembunyi di sana.

Di saat yang sama Wisnu melihat seorang raja (Manu / Prajapati) bernama Vaivasvata Manu sudah sejak lama berdoa supaya ia bisa bertemu dengan Wisnu. Karena meskipun ia putra Brahma, sulit sekali baginya untuk bisa bertemu Wisnu. Sadar bahwa Veda akan jadi sangat berbahaya di tangan Ashura, Wisnu akhirnya turun ke dunia dan menjelma menjadi seekor ikan kecil yang berenang di sungai tempat Manu Vaivasvata biasa minum dan berdoa.

Saat Sang Manu menangkupkan tangannya untuk minum, ia mendapati seekor ikan kecil di antara kedua tangannya. Ikan kecil itu memohon agar Sang Manu bersedia membawanya menjauh dari sungai. Sang Manu menyanggupi permohonan Sang Ikan dan memasukkan ikan itu ke dalam kamandalam – teko air dari bahan logam – miliknya. Sesampainya di istana ia tetap membiarkan sang ikan dalam kamandalam, namun esok harinya ia mendengar si ikan berteriak minta tolong dan mendapati Sang Ikan sudah membesar seukuran kamandalamnya. Ia segera memasukkan ikan itu ke dalam tempayan dan tak lama kemudian ikan itu tumbuh sebesar tempayan, ia beralih menuang ikan itu ke dalam gentong air dan didapatinya ikan itu kembali membesar dengan kecepatan luar biasa.

Karena kehabisan akal, Sang Manu segera membopong ikan itu ke sungai tempat ia menemukannya dan menceburkan ikan itu ke sungai itu. Sekali lagi ikan itu membesar dengan kecepatan yang tidak wajar. Pada akhirnya Sang Manu memutuskan melempar ikan itu ke laut dan saat itu jugalah ikan itu membesar ke ukuran maksimalnya dan sebuah tanduk tumbuh di dahinya. Ukurannya ini melebihi ukuran Ashura manapun yang ada di bumi saat itu.

Sang Manu langsung bersimpuh ketika menyadari siapa sebenarnya ikan ini. Manu Vaivasvata menyatakan diri bersedia memberikan pertolongan apapun pada Wisnu tapi Wisnu mengatakan bahwa ia kemari untuk menolong Sang Manu. Ia meminta Sang Manu membuat bahtera besar dan membawa segala benih tanaman dan aneka hewan yang ada di muka bumi, serta seluruh Saptarsi (Tujuh Rsi) bersama keluarga mereka, karena Yuga ini akan segera musnah diterjang air bah. Ia juga memerintahkan Sang Manu untuk mengajak serta Raja Naga Vasuki (Basuki) supaya Sang Manu bisa menggunakan naga itu sebagai tali pengait antara bahteranya dengan tanduk Matsya.

Manu menyanggupi perintah Sang Ikan dan segera pulang untuk mengerjakan bahtera yang dimaksud. Sementara itu Matsya menyelam ke dasar samudera untuk mencari Hayagriva. Begitu menemukan Sang Ashura, Matsya langsung menyerangnya tanpa ampun. Pertarungan Matsya dan Hayagriva berlangsung relatif sebentar dibandingkan pertarungan Wisnu dengan Ashura lainnya (hanya beberapa hari). Ketika Hayagriva tewas, Matsya mengambil kembali lontar Veda yang sempat dicuri dan berenang kembali ke permukaan.

Di permukaan ia dapati Sang Manu telah menyelesaikan bahteranya. Basuki segera melilitkan ekornya di badan kapal sementara lehernya ia lilitkan ke tanduk Matsya. Setelah itu Matsya segera menghela bahtera Manu menjauh dari daratan.

Air bah dan badai berkepanjangan menerjang tak berapa lama kemudian dan Matsya membawa bahtera itu ke sebuah tempat yang aman, daratan yang tidak terjangkau air bah, dan menurunkan seluruh penumpang bahtera di sana. Sesudah tugasnya selesai, Sang Matsya kembali menjadi sosok Wisnu dan terbang kembali ke Vaikuntha.

• Hayagriva selain merupakan nama Ashura juga merupakan salah satu awatara Wisnu versi Bhagavata Purana.

• Selama bahtera ditarik oleh Matsya, para Manu dan Saptarsi ‘diajak ngobrol’ oleh Matsya (soal Veda tentunya)

• Basuki adalah adik dari Ananta Sesa, Ananta Sesa sendiri adalah naga yang mengabdi pada Wisnu.

• Vaisvata Manu dan Saptarsi akan menurunkan manusia-manusia yang ada di muka bumi setelah bumi mengering.