Rabu, 25 Mei 2016

AWATARA KEDUA - KURMA AWATARA

Ras : Awatara Wisnu
Wujud : Kura-Kura Raksasa
Masa Kemunculan : Satya Yuga

Pada mulanya Dewata, baik Adhitya maupun Astawasu, serta para Ashura adalah makhluk fana. Mereka bisa mati dan terbunuh kapan saja dalam medan perang. Masalah mulai timbul ketika suatu ketika jumlah Ashura jauh melebihi para Dewata. Dewata yang kalah jumlah terpaksa mundur dari Swargaloka dan mengungsi ke Brahmaloka. Di Brahmaloka, Brahma yang mendengar keluh-kesah para Dewata menyatakan dirinya tidak bisa membantu banyak dan menyarankan para Dewata beranjak ke Vaikuntha, meminta bantuan Wisnu.

Wisnu mengatakan bahwa jauh di bawah Kshirsagar – lautan susu – terdapat Amerta (Amrta / Amrita) – air keabadian. Dewata memang memiliki Amerta, tapi jumlahnya amat sedikit. Mereka harus mendapatkan Amerta tambahan supaya mereka bisa menang bertempur melawan Ashura pada masa-masa mendatang. Dengan Amerta tambahan ini, Dewata akan menjadi makhluk abadi. Tapi untuk mendapatkan Amerta yang berada di dalam lautan itu, kekuatan Dewata semata tidak cukup. Dewata harus meminta bantuan pada dua pihak : Para Ashura yang dipimpin Mahabali dan Raja Naga Basuki.

Jadi pertama-tama para dewa datang kepada saudara sepupu mereka, Ashura, menawarkan tawaran ‘gencatan senjata’ untuk sementara guna menyukseskan misi mengaduk Kshirsagar dan mengambil Amerta. Kebanyakan Ashura tidak setuju, tapi pemimpin mereka, Mahabali, setuju untuk bekerjasama.

Para dewa kemudian beranjak menemui Basuki, dan menawarkan sedikit Tirta Amerta sebagai imbalan kepada Basuki kalau Basuki bersedia menjadi tali pemutar Gunung Mandarachala (atau Gunung Meru). Basuki – sebagaimana kebanyakan naga yang mendambakan keabadian – setuju-setuju saja dengan usulan itu. Tapi ia baru mau datang kalau Dewata dan Ashura sudah selesai mencabut Gunung Meru.

Mencabut gunung setinggi 84,000 Yojana (sekitar 1.082.000 km – 85 kali diameter bumi) ini ternyata bukan perkara enteng. Meskipun seluruh Dewata dan Ashura sudah berusaha mencabut gunung ini, tetap saja mereka kesulitan. Di tengah keputus asaan ini, para Dewata minta bantuan pada Wisnu untuk turut membantu. Jadi Wisnu turun dan turut membantu dua pihak ini mencabut gunung ini. Lalu timbul satu masalah lagi, gunung ini selalu tenggelam setiap kali hendak dibawa ke titik pengeboran. Wisnu pun memanggil Garuda untuk membantu mereka memanggul gunung itu.

Wisnu sendiri merubah dirinya menjadi sosok kura-kura raksasa – yang disebut Kurma – dan memerintahkan Garuda meletakkan gunung itu di punggungnya setelah itu ia menyuruh Sang Garuda pergi dari tempat itu karena Basuki tidak akan mau datang kalau ia melihat Garuda ada di sana (Garuda dan Naga selalu bermusuhan). Kurma membawa Gunung Meru ke titik yang telah ditentukan lalu Basuki pun datang. Ia melilitkan tubuhnya pada gunung itu dan para Dewata mengambil posisi di bagian kepala Basuki.

Tapi para Ashura curiga bahwa jika kepala Basuki terlalu dekat dengan Dewata, dua pihak ini mungkin akan merencanakan sesuatu yang tidak-tidak pada mereka. Maka mereka pun bersikeras mengambil posisi di bagian kepala Basuki. Wisnu meminta para Dewata ‘mengalah’. Mahabali curiga karena para Dewata tidak melawan, tapi rakyat dan menteri-menterinya sudah terlanjur ambil posisi. Dewata akhirnya memegang ekor Basuki.

Kecurigaan Mahabali jadi kenyataan. Setiap beberapa putaran, akibat cengkeraman para Ashura yang terlalu keras, Basuki selalu memuntahkan upas (racun / bisa) yang membuat para Ashura terbakar dan kemudian mati. Mahabali kecewa namun sudah terlambat bagi dirinya dan rakyatnya untuk berganti posisi.

Proses pengeboran itu menghasilkan beberapa harta berharga yang dibagi dua antara para Dewata dan Ashura :
• Laksmi, dewi keberuntungan, memilih Wisnu sebagai pasangannya.
• Apsara, para bidadari. Nama-nama mereka antara lain Rambha, Menaka, Punjisthala, Urvasi, Thilothamai, dan lainnya. Sebagian dari mereka berpasangan dengan para Dewata, sebagian lagi berpasangan dengan Gandarwa.
• Varuni atau Sura, dewi pembuat alkohol, menjadi pasangan dari Baruna (Varuna) – dewa samudra.
• Kamadhenu atau Surabhi, sapi pengabul segala kehendak – diambil oleh Wisnu dan kelak akan diberikan kepada para rsi pertapa.
• Airavata, dan beberapa ekor gajah, diambil oleh Indra.
• Uchhaishravas, kuda paling cepat di muka bumi. Diberikan pada para Ashura.
• Kaustubha, permata paling berharga di dunia, dikenakan oleh Wisnu.
• Parijat, bunga yang takkan pernah layu – dibawa ke Indraloka oleh para dewa.
• Astra-astra berbentuk panah – diambil oleh para Ashura.
• Chandra, dewa bulan.
• Dhanvantari, dokter para dewa. Ia membawa Amerta bersama dengannya.
• Halahala, racun mematikan yang muncul ketika proses pengadukan. Ditelan oleh Siwa dan Nandi. Namun sebagai akibatnya, tenggorokan Siwa berubah menjadi biru terbakar.
• Shankha, terompet kerang Wisnu
• Jyestha – dewi ketidakberuntungan
• Sebuah payung yang diambil Baruna
• Anting-anting yang kelak diberikan pada Aditi, oleh putranya, Indra
• Kalpavriksha atau Pohon Kalpataru.
• Nidra atau kemalasan.
• Uchhaishravas kelak akan ditunggangi oleh Arjuna dalam Mahabaratha.
• Siwa pada awalnya tidak mau ikut campur dalam Samudra Mathan, sampai ketika Halahala keluar, barulah ia mau turun tangan.
• Selain Adhitya, Prajapati, dan Astawasu, pihak Dewata juga dibantu oleh beberapa Rsi.
• Mahabali adalah Ashura paling cerdas dan mau berpikir panjang dibandingkan kaumnya yang lain. Namun, meski ia diangkat menjadi raja, kaumnya sering tidak mau mendengarkannya.

Dikarenakan proses pembagiannya agak ‘kurang adil’. Dewata mendapat jatah lebih banyak daripada Ashura. Karena itulah para Ashura menuntut supaya Amerta diberikan pada mereka karena Dewata sudah mengambil bagian lebih banyak daripada mereka.

Kemudian para Dewata kalah argumen dan akhirnya Amerta diberikan pada Ashura. Tapi itu tidak berlangsung lama. Wisnu berhasil merebut kembali Amerta itu dengan mengubah dirinya menjadi sosok wanita cantik bernama Mohini.

AWATARA KESEMBILAN – BUDDHA AWATARA

Nama asli : Siddharta Gautama
Nama lain : Sang Sujata, Sang Bhagava, Sang Tathagata, Buddha Sakyamuni
Arti Nama : Keturunan Gautama Yang Tujuannya Telah Tercapai (Siddharta Gautama), Orang Bijak dari Sakya (Sakyamuni), Ia Yang Telah Datang (Tathagata), Yang Agung (Bhagava), Yang Maha Tahu (Sujata), Yang Tercerahkan (Buddha).
Ras : Manusia (Dinasti Shakya), Manusia Awatara (Awatara Wisnu, versi Hindu), Buddha (Yang Tercerahkan, versi Buddhisme)
Masa Kemunculan : Kali Yuga.
Pasangan : Yasodhara
Anak : Rahula
Profesi : Pangeran Kapilawastu => Rahib, Pendiri Buddhisme
Lawan utama : Mara dan Devadatta

“Aku seorang yang telah melampaui segalanya, pengenal segalanya, Tak ternoda di antara segalanya, meninggalkan segalanya. Terbebaskan dalam lenyapnya keinginan.”
(Siddharta Gautama)

Awatara Wisnu yang kesembilan dalam daftar Dasa Awatara adalah seorang yang disebut Buddha. Kata “Buddha” ini kemudian merujuk kepada seorang bekas pangeran Kapilawastu bernama Siddharta Gautama yang kemudian dikenal luas karena mendirikan Buddhisme. Awatara satu ini memicu banyak ‘kontroversi’, baik saat beliau masih hidup maupun saat beliau sudah mangkat. Buddha Awatara juga awatara Wisnu yang berusia paling pendek di antara awatara lainnya (hanya 80 tahun).

Dalam pembahasan ini akan menggunakan riwayat 'gabungan' baik dari sudut pandang Buddhisme maupun Hinduisme. Di Buddhisme, Buddha pada awalnya hanya manusia biasa yang kemudian mencapai pencerahan. Dewa-dewa ada, tapi mereka benar-benar entitas yang terpisah dengan para Buddha. Sementara di Hinduisme, Buddha adalah awatara Wisnu.

(Pembahasan tentang Buddha Awatara ini mungkin agak sedikit ‘kontroversial’ jadi mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.)

Siddharta adalah putra Ratu Maha Maya dan Raja Suddhodana dari Kerajaan Kapilawastu. Saat mengandung Siddharta, Ratu Maya sudah berusia 45 tahun dan selama masa kehamilannya, sang ratu sempat bermimpi dirinya ditemui seekor gajah putih yang kemudian merasuk ke dalam rahimnya. Para brahmana kemudian dipanggil untuk mengartikan mimpi itu dan mereka berpendapat bahwa bayi yang dikandung sang ratu kelak akan menjadi seorang Cakkavatti (Raja dari semua Raja) atau seorang Buddha (yang tercerahkan).

Ketika usia kandungannya sudah mencukupi (konon Ratu Maya mengandung Siddharta selama 10 bulan), Ratu Maya pulang ke rumah orangtuanya di Devadaha – sebagaimana tradisi pada masa itu lebih menyukai seorang calon ibu melahirkan di rumah orangtuanya. Di tengah jalan mereka beristirahat di Taman Lumbini (sekarang Rumminde di Pejwar, Nepal) dan saat itu Ratu Maya turun dari tandu dan berjalan-jalan di sekitar taman.

Tiba-tiba perut sang ratu berkontraksi dan para dayang segera membuat tirai di sekeliling sang ratu kemudian lahirlah Siddharta. Konon Siddharta lahir saat sang ratu dalam posisi berdiri, bisa langsung berjalan dan berbicara.

Dan konon pula, bersamaan dengan kelahiran Siddharta, juga lahir pula :
• Yasodhara, yang kelak menjadi istri Siddharta,
• Ananda [Anak dari Amitodana, saudara termuda Raja Suddhodana], yang kelak menjadi pembantu tetap Sang Buddha selama 25 tahun,
• Kanthaka, yang kelak menjadi kuda Pangeran Siddhattha,
• Channa, yang kelak menjadi kusir Pangeran Siddhattha,
• Kaludayi, yang kelak mengundang Sang Buddha untuk berkunjung kembali ke Kapilawastu,
• Pohon Bodhi, yang kelak akan menjadi tempat bagi Pangeran Siddhattha untuk mendapatkan Penerangan Agung,

Ratu Maya sendiri wafat tujuh hari setelah persalinannya.

Sebagai pengganti Maha Maya, Suddhodana kemudian menikahi adik Maya yang bernama Prajapati Gotami. Prajapati inilah yang kemudian menjadi sosok ‘ibu’ yang mengasuh Siddharta. Pada masa balita ini, sejumlah pertapa datang berkunjung ke istana Suddhodana, salah satunya bernama Asista. Brahmana Asista kemudian meramalkan bahwa Pangeran Siddharta takkan menjadi raja. Setelah menyaksikan orang tua, orang sakit, orang meninggal, dan seorang Brahmana/Pertapa, Siddharta akan meninggalkan istana dan menjadi rahib.

Suddhodana ketakutan setengah mati mendengar ramalan itu. Meskipun dengan Prajapati ia memiliki putra bernama Nanda dan seorang putri bernama Sundari, ia tetap lebih suka Siddharta yang jadi raja. Maka Suddhodana memerintahkan Siddharta dijaga dan diasuh secara ketat. Ia tak boleh menyaksikan ‘penderitaan’ dan setiap kali Siddharta keluar istana, Raja akan memerintahkan rakyat untuk membersihkan jalan, memakai pakaian terbagus, dan bersorak-sorai gembira seolah tidak ada masalah (walau mungkin mereka punya masalah).

Dalam masa-masa remajanya, Siddharta banyak bergaul dengan binatang-binatang di sekitar istana. Sifatnya yang simpatik dan welas asih membuat binatang-binatang tidak takut pada Siddharta.

Siddharta juga pernah menyelamatkan seekor ular yang hendak dipukul seorang anak kota serta menyelamatkan seekor angsa yang sempat kena panah sepupunya : Devadatta.

“Dalam kehidupanku yang sudah-sudah, aku dan Yasodhara selalu menjadi pasangan.”
(Siddharta Gautama)

Perenungan pertama Siddharta tentang penderitaan adalah ketika ia melihat semacam rantai makanan. Semut dimakan kadal, tiba-tiba ular memakan kadal, baru sebentar juga, ada burung elang menyambar si ular. Dari situ Siddharta mulai berpikir tentang kesenangan makhluk hidup yang rata-rata cuma sesaat.

Sejak saat itu Siddharta sering ditemukan para dayang tengah duduk bersila, bermeditasi, dan tidak terganggu dengan keriuhan lingkungan sekitarnya. Raja Suddhodana yang dilapori hal itu tidak ingin anaknya berpikir hal-hal yang mendalam mengenai kehidupan. Ia ingat bahwa orang-orang bijak (Bramana/Pertapa) telah memprediksikan bahwa anaknya akan meninggalkan istana dan menjadi seorang rahib.

Jadi, untuk mengalihkan perhatiannya, sang raja kemudian mendirikan sebuah istana yang megah. Raja memerintahkan untuk membuat tiga kolam di halaman istana. Di kolam-kolam itu ditanami berbagai jenis bunga teratai (lotus). Satu kolam dengan bunga teratai yang berwarna biru (Upala), satu kolam dengan bunga yang berwarna merah (Paduma), dan satu kolam lagi dengan bunga yang berwarna putih (Pundarika).

Selain tiga kolam tersebut, Raja juga memesan wangi-wangian, pakaian dan tutup kepala dari negara Kasi, yang terkenal sebagai penghasil barang-barang bermutu terbaik. Tari dan musik dimainkan tanpa henti di istana itu. Tetapi itu tidak menghentikan Pangeran Siddharta dari pemikiran mengenai penderitaan dan ketidakbahagiaan yang terjadi disekitarnya.

Pada usia 16 tahun, Raja Suddhodana menyarankan Siddharta untuk mencari istri. Kebetulan di Kerajaan Koliya, ada sayembara untuk memperebutkan Putri Yasodhara. Siddharta memenangkan sayembara memanah, dan meruntuhkan sebuah pohon dengan sabetan pedang. Tapi ada 2 orang lagi yang bertanding dengannya di sayembara akhir : menunggangi kuda liar. Dua lawannya jatuh terjerembab karena kuda itu terus berontak, tapi dengan kelemahlembutannya, Siddharta berhasil menjinakkan kuda itu. Yasodhara pun resmi menjadi pasangannya.

Yasodhara dan Siddharta pun menikah, tapi hati Siddharta tetap saja gundah setiap kali memikirkan tentang penderitaan hewan-hewan (rantai makanan) yang pernah ia jumpai. Karena itu ia kemudian memutuskan keluar istana dengan sembunyi-sembunyi bersama Channa – kusirnya, dan di luar sana (tanpa persiapan khusus ayahnya) ia melihat empat tanda. Ia melihat orangtua yang jalannya terbungkuk-bungkuk dengan menggunakan tongkat dan Siddharta pun mulai ketakutan ketika Channa menjelaskan bahwa tidak ada obat untuk mencegah usia tua. Ia kemudian bertemu seorang pria bertubuh kurus kering yang terbaring di jalanan dan mengeluh sakit, Channa menjelaskan bahwa pria itu tengah sakit dan sakit selalu akan datang pada tiap orang tak terkecuali pada raja atau seorang pangeran macam Siddharta sekalipun. Kemudian mereka bertemu serombongan orang yang tengah memikul tandu jenazah dan kembali Siddharta menanyakan apa tidak ada obat untuk kematian, Channa kembali menjawab bahwa kematian itu tak terelakkan. Setelah itu Siddharta bertemu dengan seorang brahmana dan Siddharta dibuat terpesona oleh ketenangan sang brahmana menghadapi ‘dunia nyata’. Dalam hati Siddharta mulai memupuk keinginan untuk menjadi rahib.

Siddharta kemudian kembali ke istana, tapi keputusannya untuk menjadi rahib harus ia urungkan karena Yasodhara dikabarkan tengah hamil. Ketika Yasodhara melahirkan, dari mulut Siddharta terucap kalimat, "Belenggu terlahir, ikatan terlahir." Karena ucapan ini maka putranya dinamai Rahula, yang artinya belenggu / beban.

Di usianya yang ke-29, Siddharta mulai menjauhi aneka hiburan terutama tari-tarian. Ayahnya kemudian merasa amat khawatir kalau-kalau niat anaknya menjadi pertapa sudah mulai muncul. Benar saja, begitu diminta jujur, Siddharta menjawab bahwa ia memang ingin menjadi pertapa untuk mencari jawaban, mencari obat untuk menyembuhkan segala penyakit, usia tua, kematian, dan terutama penderitaan. Tapi kalau Raja Suddhodana punya obat untuk itu semua, ia takkan meninggalkan istana. Raja Suddhodana jelas tidak bisa memenuhi keinginan Siddharta tapi ia juga tidak mau anaknya pergi. Karena itu malam harinya Siddharta merencanakan sebuah rencana untuk kabur.
Malam itu, ia meninggalkan Yasodhara dan Rahula yang masih terlelap, membangunkan Channa lalu pergi dari istana. Dari situ ia menuju Magadha, kemudian ia memotong rambutnya, melepas segala atribut kebangsawannanya dan menyuruh Channa kembali ke Kapilawastu untuk mengembalikan benda-benda itu pada ayah dan istrinya. Siddharta sendiri kemudian mengembara dan mulai hidup sebagai rahib peminta-minta (sekarang tradisi meminta makanan ini masih dilakukan oleh para bhikku dengan nama Pindapata). Ia juga berguru kepada banyak brahmana, namun brahmana-brahmmana inipun tidak bisa menjawab pertanyaannya mengenai kebebasan dari samsara (penderitaan).

Siddharta kemudian mencoba cara lain seperti Tapabrata, bertapa tanpa makan dan minum untuk waktu yang lama sambil berjemur di panas terik saat siang atau berendam di sungai waktu malam. Di kisah-kisah Weda dan Purana, para pelaku tapabrata kadang berakhir sebagai ‘tulang-belulang yang dihinggapi arwah penasaran’ sampai dewa datang memulihkan raga para pelaku tapa. Dalam kasus Siddharta, itu tidak terjadi :3 . Ia malah nyaris tewas kalau tidak ditolong seorang anak gembala yang memberinya susu kambing karena tubuhnya sudah sedemikian kurusnya. Para brahmana ortodox pada zaman itu menolak bersentuhan dengan Sudra, tapi Siddharta tidak mau seperti itu. Hal ini diperparah setelah Siddharta menerima pemberian bubur susu dari seorang anak petani bernama Nandabala dan ibunya Sujata. Siddharta kemudian mulai makan teratur sampai kesehatannya pulih dan para teman-teman brahmananya kemudian men"cap"nya sebagai orang rakus lalu mulai menjauhinya.

Setelah kesehatannya pulih, Siddharta mulai kembali bermeditasi, kali ini di bawah pohon bodhi (Ficus religiosa). Kali ini prinsip Siddharta adalah  mengabaikan segala gangguan luar dan mengabaikan semua pemikiran duniawi. Bukan perkara mudah sebenarnya, karena ada banyak imajinasi-imajinasi duniawi melintas di kepalanya dan ada juga ... Mara.

“Dengan seribu tangan, yang masing-masing memegang senjata
Dengan menunggang gajah Girimekkhala,
Mara bersama pasukannya meraung menakutkan
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan dana dan paramita yang lainnya
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.”

Mara adalah sosok makhluk personifikasi dari nafsu duniawi. Sebagian bhikku menganggap bahwa Mara tidak nyata, hanya sebuah personifikasi tapi sebagian lagi mengganggap Mara adalah makhluk supranatural yang benar-benar ada. Dikisahkan Mara meneror Siddharta dengan pasukannya yang terdiri dari sekumpulan makhluk mengerikan, tapi Siddharta tidak gentar. Mara kemudian mencoba mengirimkan putrinya yang menyamar sebagai Yasodhara tapi gagal juga, pada akhirnya Mara benar-benar ‘marah’ dengan menyerang langsung Siddharta dengan senjatanya tapi akhirnya gagal. Senjatanya hancur, gajah tunggangannya malah berlutut di depan Siddharta dan seluruh dewa-dewa kahyangan malah turun dan siap menghajarnya. Mara pun akhirnya menghilang. untuk sementara waktu, dan Siddharta telah menjadi seorang Buddha, di usianya yang ke-35 tahun.

Setelah menjadi Buddha, Siddharta bertemu dengan lima rekannya yang dulu sempat menjulukinya pertapa rakus. Kelima brahmana ini dibuat terkejut dengan penampilan Siddharta yang ‘berbeda’ dan bertanya kepada siapa Siddharta berguru. Siddharta menjawab bukan dengan siapa-siapa selain dirinya sendiri. Ia memproklamirkan dirinya sebagai seorang Buddha dan mengajak lima orang rekannya itu membentuk sangha (persaudaraan).

Sangha ini mulanya hanya terdiri dari 6 orang, namun lama kelamaan berkembang menjadi banyak. Sang Buddha kemudian mengajari para bhikku ini delapan jalan untuk melenyapkan penderitaan :
1. Pengertian Yang Benar (sammä-ditthi)
2. Pikiran Yang Benar (sammä-sankappa)
3. Ucapan Yang Benar (sammä-väcä)
4. Perbuatan Yang Benar (sammä-kammanta)
5. Pencaharian Yang Benar (sammä-ajiva)
6. Daya-upaya Yang Benar (sammä-väyäma)
7. Perhatian Yang Benar (sammä-sati)
8. Konsentrasi Yang Benar (sammä-samädhi)

Dan Pancasila (bukan Pancasila dasar negara Republik Indonesia) sebagai sumpah moralnya :
1. Aku bertekad melatih diri untuk menghindari pembunuhan (nilai kemanusiaan) guna mencapai samadi.
2. Aku bertekad melatih diri untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan (nilai keadilan)guna mencapai samadi.
3. Aku bertekad melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila (berzinah, menggauli suami/istri orang lain, nilai keluarga)guna mencapai samadi.
4. Aku bertekad untuk melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar /berbohong, berdusta, fitnah, omongkosong (nilai kejujuran)guna mencapai samadi.
5. Aku bertekad untuk melatih diri menghindari segala minuman dan makanan yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan (nilai pembebasan)guna mencapai samadi.

Mereka yang telah mencapai kesempurnaan (kesadaran) tertinggi setelah Buddha disebut telah mencapai arahat (kesempurnaan). Yang unik, murid kesayangan sekaligus asisten Buddha yakni Ananda, baru mencapati tahap arahat pasca wafatnya Sang Buddha.

Setiap nabi atau orang bijak selalu ‘dikasih’ pengkhianat. Yesus dengan Yudas Iskariotnya dan Buddha dengan Devadatta.
Kali ini Devadatta kembali lagi, awalnya sebagai seorang bhikku, murid Sang Buddha, tapi kemudian Devadatta yang awalnya sudah arogan, sangat cemburu karena tidak diberi ‘jabatan’ penting. Buddha malah menunjuk dua orang bhikku yang masih baru bernama Sariputta dan Moggallana untuk menjadi pengikut utamanya (calon penerus). Karena itu Devadatta pun meninggalkan Sangha (komunitas para Bhikkhu dan Bhikkhuni) dan berteman dengan pangeran Ajatasattu, anak dari Raja Bimbisara. Sang pangeran membangun sebuah vihara pribadi untuk Devadatta. Devadatta kemudian membujuk pangeran untuk membunuh ayahnya, Raja Bimbisara, agar sang pangeran dapat menjadi raja. Sang pangeran mengikuti skema jahat Devadatta dan tidak memberi ayahnya makan hingga tewas lalu Ajatasattu menjadi raja.

Karena sekarang Devadatta merasa sangat berkuasa karena raja yang baru adalah teman dan pendukungnya, ia memutuskan untuk membunuh Sang Buddha untuk mengambil alih sangha. Suatu malam, ketika Sang Buddha sedang berjalan di bukit berbatu, Devadatta mendorong jatuh sebuah batu besar untuk membunuh Sang Buddha. Tetapi batu itu tiba-tiba terpecah-bilah dan hanya sebagian kecil dari batu itu yang tajam yang melukai kaki Sang Buddha. Sang Buddha kembali ke vihara dan dirawat oleh seorang tabib terkenal, Jivaka.

Untuk mengesankan para Bhikkhu dan Bhikkhuni lain dan juga mengganggu Sangha, Devadatta meminta Sang Buddha untuk membuat peraturan (tata krama) yang lebih ketat untuk Sangha. Devadatta meminta agar para Bhikkhu tidak diijinkan tidur di rumah atau makan daging. Tetapi Sang Buddha menolak proposal Devadatta. Sang Buddha berkata: "Jika beberapa Bhikkhu hendak tidur di luar rumah atau tidak memakan daging, mereka bebas melakukannya. Tetapi jika mereka tidak ingin hidup dalam cara demikian, mereka juga tidak harus melakukannya." Akhirnya, Sang Buddha berkata:
"Devadatta, jika kamu ingin memecah Sangha, kamu akan memetik buah kejahatan."
(Buddha Gautama)

Devadatta mengabaikan peringatan Sang Buddha, dan pergi memimpin sekelompok Bhikkhu dan membuat dirinya pemimpin dari kelompok Bhikkhunya. Suatu hari, ketika Devadatta sedang tidur, pengikut utama Sang Buddha yang bernama Sariputta datang dan memperingati para Bhikkhu mengenai konsekuensi dari tindakan jahat. Para Bhikkhu itu kemudian menyadari kesalahan mereka dan kembali kepada Sang Buddha. Bagaimanapun juga, banyak diantara mereka telah dibawa pulang kembali oleh Sariputta Thera dan Maha Moggallana Thera. Kemudian, Devadatta jatuh sakit. Setelah menderita sakit selama sembilan bulan, dia meminta murid-muridnya untuk membawanya menghadap Sang Buddha di Vihara Jetavana.

Mendengar kabar bahwa Devadatta akan tiba, Sang Buddha berkata kepada murid-murid-Nya, bahwa Devadatta tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk menemui-Nya. Ketika Devadatta dan rombongannya mencapai kolam di dekat Vihara Jetavana, para pengangkutnya meletakkan tandu tempat berbaringnya di tepi kolam, dan mereka pergi mandi. Devadatta bangun dari tempat berbaringnya, dan menaruhkan kedua kakinya di tanah.

Pada saat itu juga kakinya masuk ke dalam bumi, dan sedikit demi sedikit dia ditelan bumi. Devadatta tidak memiliki kesempatan untuk melihat Sang Buddha, karena perbuatan jahat yang telah dia lakukan terhadap Sang Buddha. Setelah kematiannya, dia terlahir di Neraka Avici (Avici Niraya), tempat yang penuh dengan penyiksaan terus menerus.

“Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir.'

Setelah hal ini diucapkan, Sang Bhagava berkata kepada māraṃ pāpimantaṃ (Mara papima): "Pāpima, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiṇṇaṃ māsānaṃ accayena (tiga bulan lagi) Sang Tathagata akan Parinibbana.”
(Mahaparinibbana Sutta)

Usia tua Buddha Gautama sama seperti orangtua pada umumnya. Ketahanan tubuhnya sudah tidak bagus dan aneka penyakit sering menyerang dirinya. Itu masih belum ditambah gangguan dari Mara, yang bolak-balik membujuknya untuk segera paranibbana (meninggalkan dunia). Meski begitu, Buddha Gautama tetap berkotbah dan mengajar dengan dibantu oleh Ananda – bhikku asistennya yang paling setia. Ia juga menyempatkan diri melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang jauh untuk mengajar meski usianya tidak muda lagi.

“Aku telah mambabarkan kebenaran tanpa perbedaan apa pun; karena demi kebenaran, tidak ada yang disembunyikan dalam ajaran Buddha... Adalah mungkin, Ananda, bahwa beberapa di antara kamu, akan timbul pikiran, 'Kata-kata Sang Guru akan segera berakhir; sebentar lagi kita tidak akan memiliki seorang guru.' Tapi jangan berpikir seperti itu, Ananda. Bila Aku telah pergi, ajaran dan aturan disiplin-Ku-lah yang akan menjadi gurumu.”
(Mahaparinibbana Sutta)

Tiga bulan sebelum kematiannya, Buddha Gautama mengumpulkan semua bhikku untuk menyampaikan pesan-pesan terakhirnya. Ia mengumpulkan para bhikku di suatu tempat di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, lalu Buddha pun Parinibbana.

Ajaran Buddha kini dikenal sebagai salah satu religi dengan pengikut lumayan besar dan disebut Buddhisme. Saat ini di dunia ada beberapa mazhab Buddhisme yakni :
1. Theravada – terutama tersebar di Asia Tenggara.
2. Mahayana – dulu merupakan agama dominan di Sumatra pada zaman Sriwijaya dan di Jawa pada masa Mataram Kuno. Saat ini rata-rata pengikutnya ada di India dan Sri Lanka.
3. Tantrayana / Vajrayana – penganutnya tersebar di Nepal dan Tibet.
4. Zen – biasanya ada di Jepang, termasuk mazhab unik karena mengizinkan biksunya berumahtangga tanpa harus melepas jubah.

==DALAM AGAMA HINDU==
“Di masa ini, Zaman Kali (kegelapan), Dewa Wisnu menjelma sebagai Gautama, seorang Shakyamuni, dan mengajarkan dharma Buddha selama sepuluh tahun. Kemudian Shuddhodana memerintah selama dua puluh tahun, dan Shakyasimha selama dua puluh tahun. Pada tahap pertama Zaman Kali, jalan Weda telah dihancurkan dan seluruh orang menjadi umat Buddha. Orang-orang yang mencari perlindungan kepada Wisnu telah menjadi sesat.”
(Bhagavata Purana, 1 : 3)

Para brahmana ortodox cenderung akan menerjemahkan teks di atas secara harafiah dengan mengatakan bahwa Wisnu menjelma menjadi Buddha untuk menyesatkan manusia. Tapi brahmana yang lebih moderat mengatakan bahwa kehadiran Buddha Awatara adalah untuk menyelesaikan ‘reformasi’ yang dibawa oleh Kresna Awatara.

Kresna sendiri ‘agak tidak setuju’ dengan sistem caturwarna yang sering disebut juga sebagai kasta. Sistem ini pada awalnya ditujukan untuk menggolongkan masyarakat sesuai profesi dan perannya yakni brahmana (para guru dan cendikia), kesatria (para elit pemerintahan dan prajurit), waisya (pedagang, peternak, petani yang memiliki lahan), dan sudra (para pegawai). Namun setelah sekian lama kaum brahmana dan kesatria meng-elit-kan diri dan mulai bersikap tidak menyenangkan kepada dua kasta lainnya. Kresna sendiri tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu namun apa yang dia sampaikan dalam Bhagawad Gita belum terlalu berefek luas sehingga dalam kesempatannya menjadi Buddha, ia hendak menyelesaikan ‘reformasi’ itu.

Buddha Awatara sendiri adalah satu-satunya awatara yang benar-benar konsisten menjalankan prinsip ahimsa – tanpa kekerasan – seumur hidupnya.

Penetapan Buddha sebagai awatara banyak mengundang kontroversi. Tidak hanya dari para brahmana dan umat Hindu ortodox, tapi juga dari para bhikku Buddhis itu sendiri.

Tahun 1999, dalam forum Masyarakat Maha Bodhi (Masyarakat Buddha Asia Selatan), para bhikku dan brahmana yang berkumpul di sana mengeluarkan tiga fatwa :
• Karena alasan tertentu beberapa sastra yang ditulis di India pada zaman dahulu menganggap Buddha sebagai reinkarnasi Wisnu dan berbagai anggapan keliru mengenai Beliau, hal ini sangat tidak menyenangkan. Dalam upaya mengembangkan hubungan yang lebih akrab antara umat Hindu dan Buddha kami memutuskan bahwa apapun yang terjadi pada masa lalu mesti dilupakan dan keyakinan tersebut tidak boleh disebarkan.
• Untuk menghapus kekeliruan ini selamanya, kami mengumumkan bahwa baik Weda maupun Samana merupakan tradisi kuno di India (Wisnu termasuk tradisi Weda sedangkan Buddha termasuk tradisi Samana). Usaha yang dilakukan suatu tradisi untuk menunjukkan bahwa ia lebih mulia dibandingkan tradisi lainnya hanya memupuk kebencian dan sakit hati antara keduanya. Maka dari itu hal tersebut tidak boleh dilakukan untuk selanjutnya dan dua tradisi harus saling menghormati dan menghargai.
• Siapa pun mampu mencapai derajat tinggi di masyarakat dengan cara melakukan perbuatan baik. Seseorang mendapat derajat yang buruk di masyarakat jika melakukan perbuatan buruk. Maka dari itu siapa pun yang melakukan perbuatan baik dan melenyapkan niat kotor seperti nafsu, amarah, kebodohan, ketamakan, kecemburuan, dan ego dapat mencapai derajat tinggi di masyarakat dan menikmati kedamaian dan kebahagiaan.

Pasca fatwa ini keluar, banyak brahmana yang mengganti ajarannya mengenai Dasa Awatara. Awatara kedelapan diganti dengan Balarama (Baladewa) Awatara sementara Awatara Kesembilan diganti dengan Kresna Awatara.

==BUDDHISME DI NUSANTARA==
Di Nusantara abad 13-15, Buddhisme Mahayana berkembang pesat, berdampingan dengan Hindu Siwa. Tapi dua hal yang berbeda biasanya sedikit banyak pasti akan berkonflik dan untuk meredam konflik itu, seorang pujangga bernama Mpu Tantular mengusulkan sebuah slogan pendekatan dalam Kakawin Sutasoma : “Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.” (Terpecah belah tapi satu jua, sebab tak ada dharma – kebenaran – yang mendua).

Teks lengkapnya berbunyi sebagai berikut :
“Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.”

Terjemahan (versi Dr Soewito Santoso):
“Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.”

Semenjak itu Hindu Siwa – Buddhisme dianggap sebagai dua sekte berbeda dalam satu religi yang sama. Kedekatan ini kemudian melahirkan sebuah agama sinkretis bernama Siwa-Buddha di mana masih ada pemujaan terhadap dewa-dewi namun prinsip-prinsip Buddhisme ada di dalam ajarannya. Siwa-Buddha sering disebut ‘Buda’ saja.

Pasca kemerdekaan Indonesia dan pemerintahan Presiden Soekarno mengadakan sensus penduduk. Penduduk Tengger mengaku diri beragama ‘Buda’ dan sampai tahun 1960-an kesalahpahaman bahwa mayoritas penduduk Tengger beragama ‘Buddha’ masih terus berlangsung. Baru setelah pemerintahan berganti, para pemuka agama dari 5 agama berunding dan memutuskan bahwa mayoritas masyarakat Tengger punya tatacara beribadat yang cenderung mirip dengan agama Hindu.

Sisa-sisa penganut Siwa-Buddha juga masih bisa kita temukan di desa Budakeling, Bali. Prinsipnya secara sederhana begini : di sini ada rupang (arca) Buddha Gautama dan rupang (arca) Dewa Siwa. Berdua mereka sama-sama dipandang sebagai manifestasi Yang Maha Esa. Silakan sembahyang di depan rupang yang mana saja, tidak masalah.

• Pada saat ini, mayoritas penganut Buddhisme di Indonesia (40-60%) adalah Buddha mazhab Theravada.
• Ada perbedaan besar antara kata ‘Buda’, ‘Budha’, dan ‘Buddha’. Buda adalah agama sinkretis Hindu Siwa dan Buddhisme, Budha adalah nama dewa dalam agama Hindu, sementara Buddha sendiri adalah gelar Siddharta Gautama sekaligus nama ajarannya.
• Buddha adalah satu-satunya awatara yang secara teguh memegang prinsip ‘ahimsa’ – tanpa kekerasan. Ia hanya diketahui pernah satu kali marah, yakni kepada Devadatta saat Devadatta hendak memecah Sangha.
• Meski ditunjuk sebagai penerus, Sariputta Thera dan Maha Moggallana Thera meninggal lebih dulu daripada Buddha.

AWATARA KEENAM - PARASURAMA AWATARA

AWATARA KEENAM – PARASURAMA AWATARA

Nama lain : Rambhadra, Ramabargwa, Bregupati, Rama Bhargawa, Ramaparasu
Arti Nama : Rama Yang Membawa Kapak (Ramaparasu), Rama Sang Keturunan Maharsi Bhregu (Rama Bhargawa).
Ras : Manusia Awatara (Awatara Wisnu), Chiranjiwin (Kaum Abadi).
Masa Kemunculan : Treta Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga
Senjata : Parasu (Kapak) dan Busur Vijaya
Pasangan : Dharini
Profesi : Brahmana
Lawan Utama : Warna Kesatria, terutama Arjuna Sasrabahu.

Ada seorang Rsi yang menjadi bagian dari tujuh Sapta Rsi bernama Jamadagni. Jamadagni telah memiliki empat putra namun suatu ketika istrinya hamil putra kelimanya, Jamadgani dan istrinya, Renuka, mendapat pesan dari Batara Siwa bahwa Batara Wisnu akan menitis kepada putra kelima mereka. Putra kelima mereka ini dinamai Rama atau Ramabhadra.

Sebagai istri brahmana yang tergabung dalam Sapta Rsi, Renuka memiliki kemampuan untuk memadatkan tanah liat yang masih basah dan belum dibakar menjadi pot tembikar untuk menampung air. Namun suatu saat hendak mengambil air di sungai, ia terpesona melihat sekawanan gandarwa , satu pikiran untuk ‘serong’ dengan para gandarwa langsung melintas di pikiran Renuka. Akibatnya kendi air di tangannya langsung meleleh dan larut dalam air. Renuka pun ketakutan dan tidak berani pulang karena ia tahu suaminya pasti akan marah besar padanya.

Jamadagni tidak perlu waktu lama untuk tahu perbuatan istrinya itu. Dalam meditasinya, lintasan pikiran Renuka masuk ke dalam pikirannya. Dengan kekuatannya, Sang Rsi memaksa sang istri pulang lalu memanggil putra sulungnya dan menyodorkan sebuah kapak kepadanya. “Bunuh ibumu dengan kapak itu!” kata Jamadagni.

Sang putra sulung ketakutan dan menolak perintah sang ayah, dan sebagai akibatnya ia dikutuk menjadi batu. Putra kedua, ketiga, dan keempat juga dipanggil dan diberi perintah serupa, dan semuanya menolak. Akhirnya empat putranya pun berubah menjadi batu. Sampai akhirnya Rama mengambil kapak itu dan tanpa ragu memenggal kepala ibunya.

Jamadagni terkesan oleh kepatuhan Rama sehingga menawarinya untuk mengabulkan dua permintaan Rama. Rama hanya meminta sang ayah menghidupkan kembali ibu dan empat kakaknya. Kemudian dengan senang hati Jamadagni mengabulkannya.

***
Meskipun merupakan awatara Wisnu, Rama dan ayahnya termasuk brahmana sekte Shaivanism (Siwaisme) yang lazim hidup bertapa, menyendiri di tengah hutan atau pegunungan, makan seadanya dari hutan, dan melumuri tubuh mereka dengan abu. Ketika sudah cukup usia, Rama meninggalkan rumahnya untuk bermeditasi pada Siwa. Setelah melakukan tapa selama bertahun-tahun Siwa datang menemuinya, memberinya sebuah kapak yang tak dapat dihancurkan oleh apapun bernama Parasu (Parashu). Lalu memberi perintah pada Rama untuk membebaskan Ibu Bumi dari penjahat, orang-orang serakah, iblis, dan orang-orang yg meninggalkan ajaran Dharma.

Kemudian selama 21 hari Siwa menantang Rama untuk bertarung. Selama 21 hari itu pula murid dan guru itu saling tebas dan serang. Siwa dengan trisulanya, Rama dengan Parasunya. Di hari ke-21 Rama berhasil melukai dahi Siwa dengan kapaknya dan pertarungan pun dihentikan. Siwa sangat puas dengan kecakapan muridnya itu dan sejak saat itu menamai diri-Nya ‘Khanda-parshu’ (Yang dilukai oleh kapak) sebagai wujud penghormatan Siwa pada Rama. Nama Rama sendiri kemudian berubah menjadi Parasurama.

****
Ada seorang raja dari ras Yadu, bernama Kartavirya Arjuna atau Arjuna Sasrabahu – Arjuna yang bertangan seribu. Raja ini menguasai wilayah Mahespati (atau Halaya di versi India). Awalnya raja ini adalah raja yang bijak dan perkasa. Raja ini bahkan sempat mengalahkan Rahwana muda dan memaksa Rahwana untuk tidak mengekspansi negara lain lagi.

Tapi kemudian raja ini menjadi ‘gila hormat’ dan merasa tak ada satupun yang lebih sakti dari dirinya. Dalam kunjungannya ke asrama (pertapaan) Rsi Jamadagni, Sang Raja disuguhi aneka hidangan nikmat ala istana oleh Sang Rsi dalam kuantitas yang tidak main-main. Penasaran dari mana Sang Rsi mendapatkan hidangan sebanyak dan semewah itu padahal hidupnya amat sederhana, Jamadagni mengatakan bahwa ia mendapatkannya melalui perantaraan sapi Kamadhenu (Sapi ini adalah sapi pengabul segala kehendak yang keluar pada saat Samudra Manthan yang diberikan oleh Batara Wisnu (atau Indra, tergantung versinya) kepadanya. Arjuna Sasrabahu menginginkan sapi itu. Ia hendak membeli sapi itu, tapi Jamadagni menolaknya. Sang raja terus membujuk dan menaikkan tawarannya tapi Jamadagni tetap kukuh bahwa sapi pemberian Bhatara Wisnu itu tidak dijual.

Karena kesal tawarannya ditolak, Sang Raja lalu membawa sapi itu secara paksa dari asrama Rsi Jamadagni. Dan tak berapa lama kemudian Parasurama kembali ke pertapaan ayahnya dan mendapati sapi Kamadhenu tak ada lagi di rumah ayahnya. Ketika Parasurama bertanya ke mana perginya sapi itu, ayahnya menjawab bahwa Raja Arjuna Sasrabahu membawanya. Marah atas perilaku Sang Raja yang seenaknya, Parasurama berlari ke istana Sang Raja dengan niat merebut kembali sapi suci itu.

Arjuna Sasrabahu tidak mau mengembalikan sapi itu begitu saja dan menantang Parasurama untuk bertarung. Parasurama memanah satu-demi-satu seribu tangan Arjuna lalu memenggal kepala Sang Raja kemudian membawa pulang sapi Kamadhenu ke pertapaan ayahnya. Ayahnya senang sapinya kembali, tapi melihat ada noda darah di kapak anaknya, Jamadagni berkata, “Tidak layak Brahmana dikontrol oleh amarah dan kesombongan. Sucikan dirimu segera, Rama.”

Maka Parasurama pun kembali meninggalkan rumahnya, mengasingkan diri selama satu tahun untuk menyucikan diri. Di pengasingan ini, Indra menghadiahinya busur Wijaya sebagai hadiah atas keberaniannya menantang Arjuna Sasrabahu. Tapi di saat yang sama, anak-anak Arjuna Sasrabahu yang menemukan jenazah ayah mereka menjadi luar biasa marahnya. Mereka segera menyerbu pertapaan Jamadagni dan membunuh Sang Rsi dengan menembakkan ratusan anak panah. Jamadagni pun tewas. Anak-anak Arjuna Sasrabahu pun memenggal kepala Jamadagni dan membawanya ke istana mereka sebagai tropi kemenangan.

Ketika Parasurama kembali dari pengasingannya, ia menemukan ibunya tengah berduka dan meratapi kematian ayahnya sambil memukul-mukul dadanya sebanyak 21 kali. Di samping ibunya, teronggok jasad Jamadagni yang tanpa kepala. Parasurama pun menjadi sangat sakit hati atas kepongahan warna (kasta) kesatria dan bersumpah akan membantai seluruh kaum kesatria dalam pembantaian yang akan dia lakukan sebanyak 21 kali keliling dunia.

***
“Pada masa antara Treta dan Dwapara Yuga, Parasurama, sang pejuang terhebat, terusik oleh ketidaksabarannya menyaksikan segala kepongahan kaum kesatria, berulang kali membantai kaum kesatria. Ketika ia selesai dengan aksi pembantaiannya, ia telah menciptakan Samanta-panchaka, lima danau besar berisi darah.

Parasurama membantai seluruh raja yang ada di dunia ini tanpa pandang bulu. Ia tidak peduli apakah raja-raja ini masih muda atau sudah tua, apakah raja ini punya pewaris atau tidak punya pewaris, atau apakah raja ini dicintai rakyatnya atau malah dibenci rakyatnya. Pokoknya nyaris tidak ada dinasti kerajaan yang ‘selamat’ dari amukan Parasurama. 

Korban pertama dari perjalanan Parasurama ini adalah anak-anak Arjuna Sasrabahu. Setelah membunuh anak-anak ‘kurang ajar’ ini ia membawa kembali kepala ayahnya ke pertapaan dan melakukan upacara pembakaran jenazah lalu melanjutkan perjalanannya.

Setelah 21 kali mengelilingi dunia, Parasurama mengadakan sebuah upacara agung yang intinya menyatakan bahwa raja-raja yang tersisa wajib menyerah dan menyatakan kesetiaan kepada Parasurama. Yang tidak mau, dipersilakan mengalahkan Parasurama. Sebagian raja tidak mau mengakui seorang brahmana sebagai Maharaja mereka, dan akhirnya tewas saat bertarung dengan Parasurama. Raja-raja yang tersisa akhirnya menyatakan diri sebagai bawahan Parasurama. Parasurama sendiri kemudian membagi-bagikan wilayah taklukannya di antara para brahmana sebelum akhirnya mengundurkan diri untuk bertapa kembali di Pegunungan Mahendra.

***
Ada satu dinasti yang selamat dari amukan Parasurama, yakni Dinasti Surya (Kerajaan Ayodhya). Entah bagaimana dinasti ini tidak kena utak-atik dari Parasurama.
Hingga akhirnya Parasurama dipertapaannya mendengar suara gemuruh yang maha dasyat menggelegar saat seorang pangeran dari Kerajaan Ayodhya bernama Rama mematahkan busur Haradhanu milik Siwa yang dimiliki oleh Raja Mithila, Janaka, saat tengah mengadakan sayembara untuk mencari suami bagi putri angkatnya Sita.

Parasurama langsung naik darah. Ia menyangka ada lagi kaum kesatria yang telah lancang sok pamer kekuatan di dunia ini. Langsung saja ia turun gunung dan menghadang Rama yang sedang dalam perjalanan pulang ke Ayodhya bersama Sinta, adiknya Laksmana, dan seorang Sapta Rsi Wiswamitra. Wiswamitra memohon agar Parasurama kembali lagi ke pertapaannya dan berusaha keras meyakinkan Parasurama bahwa Rama sama sekali tidak punya maksud ‘pamer kekuatan’ hanya saja busur Haradhanu milik Siwa tiba-tiba patah saat direntangkan oleh Rama.

Parasurama tidak percaya, ia melemparkan busur Wisnudhanu, busur yang dimilikinya sebagai awatara Wisnu kepada Rama dan menantangnya untuk menarik busur itu. Rama menarik busur itu tanpa kesulitan sementara kapak Parasurama tiba-tiba menjadi sangat berat. Parasurama pun langsung sadar bahwa dia bukan lagi awatara Wisnu. Rama sudah mengambil alih posisinya. Karena itu ia pun undur diri dan masuk kembali ke dalam hutan. Busur milik Wisnu itu diberikan pada Rama.

Parasurama adalah awatara Wisnu paling unik karena ia adalah Chiranjiwin (kaum abadi). Ia terus hidup sampai era Dwapara Yuga, di mana kisah Mahabaratha akan terjadi. Di masa ini ia menjadi guru dari seorang pangeran Wangsa Kuru bernama Bhisma. Di masa ini kebenciannya terhadap kaum kesatria sudah hilang. Tapi ada satu masalah yang kemudian membuat hubungan guru-murid ini retak.

Permasalahannya ... Bhisma pernah dengan sengaja memenangkan sayembara memperebutkan putri dari kerajaan seberang yakni Amba, Ambalika, dan Ambika untuk diperistri adiknya.
Hingga akhirnya Ambika meminta bantuan dari Parasurama. Karena Bhisma sudah "menghina"nya.
Parasurama  dan Bhisma saling baku hantam selama 23 hari dan pada akhirnya Bhisma yang menang (Bhisma saat itu adalah manusia awatara dari Dyaus sementara Parasurama sudah bukan lagi manusia awatara). Kesal dengan perilaku Bhisma, Parasurama bersumpah tidak akan pernah mau lagi mengajar murid dari golongan kesatria.

***
Drona, seorang brahmana yang kelak akan menjadi guru para Kurawa dan Pandawa suatu saat bertemu dengan Parasurama dalam sebuah perjalanan. Drona menyatakan bahwa ia butuh pengetahuan tentang segala jenis senjata yang diketahui Parasurama. Karena Drona seorang brahmana, Parasurama akhirnya mengajari Drona segala jenis teknik beladiri dan penggunaan senjata baik senjata biasa atau astra (Brahmastra terutama). Ia juga memberi Drona semua senjata koleksinya kecuali kapak Siwa dan busur Wijaya dari Indra.

***
Radheya, putra sulung Kunti anugrah Bhatara Surya sekaligus kakak sulung Pandawa, diadopsi oleh kusir kereta kerajaan Hastina. Memiliki bakat alam sebagai pemanah handal, ia sempat minta diajari memanah oleh Drona tapi Drona menolak karena sudah terikat sumpah pada Bhisma dan Tua-Tua Hastina bahwa ia hanya akan mengajari para pangeran Hastina. Kesal karena penolakan Drona, Radheya mengembara mencari Parasurama dengan menyamar sebagai seorang brahmana. Parasurama senang sekali menerima ‘brahmana’ Radheya sebagai muridnya. Ia menganggap Radheya adalah muridnya yang paling cerdas dan cepat belajar. Tapi semua itu berubah saat suatu ketika Parasurama tengah tidur berbantalkan pangkuan Radheya . Saat itu seekor kalajengking menyengat kaki Radheya sehingga kaki Radheya berdarah dan darahnya menetes ke wajah Parasurama.

Parasurama terbangun dan langsung menginterogasi Radheya. Mulanya Radheya tidak mengaku tapi ketika Parasurama mendesak, ia mengaku bahwa ia memang bukan Brahmana.

Parasurama menghardik, “Cuma Kesatria yang bisa menahan rasa sakit disengat kalajengking seperti itu!”

“Guru, saya bukan kesatria. Saya hanyalah Suta, anak kusir.”

“Ah, sama saja! Kau menipuku! Karena kau sudah menipuku untuk mendapatkan pengetahuanku, kelak semua senjata dan kesaktianmu tak akan berguna di saat-saat kau sangat membutuhkannya!”

Tapi meskipun Parasurama marah besar pada Radheya, ia memberi Radheya pusakanya yang terakhir : Busur Wijaya dan astra bernama Bhagavastra.

Kutukan Parasurama terbukti. Menjelang dan di saat bertarung dengan Arjuna, kesaktian Karna menghilang satu demi satu. Dia bahkan tak bisa memanggil satupun astra miliknya di saat-saat terakhir. Karna sendiri akhirnya tewas terpenggal panah Pasopati Arjuna.

***
Diceritakan dalam Wisnupurana, Awatara terakhir Wisnu yakni Kalki Awatara akan berguru pada Parasurama guna mendapatkan senjata dari Siwa untuk mengalahkan Iblis Kali.

***
Parasurama juga ditampilkan sebagai tokoh dalam pewayangan. Ia lebih terkenal dengan sebutan Ramabargawa. Selain itu ia juga sering dipanggil Jamadagni, sama dengan nama ayahnya.

Ciri khas pewayangan adalah jalinan silsilah yang saling berkaitan satu sama lain. Kisah-kisah tentang Ramabargawa yang bersumber dari naskah Serat Arjunasasrabahu antara lain menyebut tokoh ini sebagai keturunan Batara Surya. Ayahnya bernama Jamadagni merupakan sepupu dari Kartawirya raja Kerajaan Mahespati. Adapun Kartawirya adalah ayah dari Arjuna Sasrabahu alias Kartawirya Arjuna. Selain itu, Jamadagni juga memiliki sepupu jauh bernama Rsi Gotama, ayah dari Subali dan Sugriwa.

Dalam pewayangan dikisahkan Ramabargawa menghukum mati ibunya sendiri, yaitu Renuka, atas perintah ayahnya. Penyebabnya ialah karena Renuka telah berselingkuh dengan Citrarata raja Kerajaan Martikawata. Peristiwa tersebut menyebabkan kemarahan dan rasa benci luar biasa Ramabargawa terhadap kaum kesatria.

Setelah menumpas kaum kesatria, Ramabargawa merasa jenuh dan memutuskan untuk meninggalkan dunia. Atas petunjuk dewata, ia akan mencapai surga apabila mati di tangan titisan Wisnu. Adapun Ramabargwa versi Jawa bukan titisan Wisnu. Sebaliknya, Wisnu dikisahkan menitis kepada Arjuna Sasrabahu yang menurut versi asli adalah musuh Ramabargawa.

Setelah lama mencari, Ramabargawa berhasil menemui Arjuna Sasrabahu. Namun saat itu Arjuna Sasrabahu telah kehilangan semangat hidup setelah kematian sepupunya, yaitu Sumantri, dan istrinya, yakni Dewi Citrawati. Dalam pertarungan tersebut, Ramabargawa justru malah menewaskan Arjuna Sasrabahu.

Ramabargawa kecewa dan menuduh dewata telah berbohong kepadanya. Batara Narada selaku utusan kahyangan menjelaskan bahwa Wisnu telah meninggalkan Arjuna Sasrabahu untuk terlahir kembali sebagai Rama putra Dasarata. Ramabargawa diminta bersabar untuk menunggu Rama dewasa. Beberapa tahun kemudian, Ramabargawa berhasil menemukan Rama yang sedang dalam perjalanan pulang setelah memenangkan sayembara Sinta. Ia pun menantang Rama bertarung. Dalam perang tanding tersebut, Ramabargawa akhirnya gugur dan naik ke kahyangan menjadi dewa, bergelar Batara Ramaparasu.

Pada zaman berikutnya, Ramaparasu bertemu awatara Wisnu lainnya, yaitu Kresna ketika dalam perjalanan sebagai duta perdamaian utusan para Pandawa menuju Kerajaan Hastina. Saat itu Ramaparasu bersama Batara Narada, Batara Kanwa, dan Batara Janaka menghadang kereta Kresna untuk ikut serta menuju Hastina sebagai saksi perundingan Kresna dengan pihak Kurawa. Kisah ini terdapat dalam naskah Kakawin Bharatayuddha dari zaman Kerajaan Kediri.

Di Bali diceritakan bahwa ia dan Arjuna Sasrabahu sama-sama merupakan titisan Wisnu.

***
Dalam versi india mengisahkan,
Saat Maharsi Narada berkunjung ke Vaikuntha dan tanpa sengaja menemukan Cakram Sudarshana dengan Bhatara Wisnu sedang berselisih paham. Sang cakram yang memiliki kesadaran sendiri itu bilang bahwa Wisnu takkan bisa mengalahkan Asura manapun tanpa dirinya dan dirinyalah yang selama ini menjadi kekuatan Wisnu, tanpa dirinya Wisnu bukan siapa-siapa.

Tampaknya Wisnu menjadi agak sebal dengan tingkah senjatanya itu dan akhirnya menyuruhnya pergi ke dunia dan menitis menjadi seorang raja bernama Arjuna Sasrabahu. Wisnu sendiri berjanji kelak akan menyusul dan menitis kepada seorang putra brahmana. Setelah itu mereka akan baku hantam untuk menyelesaikan perdebatan mereka.

Arjuna Sasrabahu memang akhirnya bertemu Parasurama dan bertempur yang menyebabkan kekalahan bagi Arjuna Sasrabahu.

***
• Di Myanmar, Laos, Thailand, Vietnam dan Kamboja, Parasurama bukanlah Awatara Wisnu yang populer. Apalagi di Nusantara – yang raja-rajanya ‘agak’ tidak mau dikritik dan disalahkan. Karena itu di Nusantara, Awatara keenam Wisnu diubah. Bukan Parasurama, tapi Arjuna Sasrabahu.
• Model pengakuan Awatara Keenam Wisnu adalah Arjuna Sasrabahu juga terasa di Bali, di mana ada kisah yang menceritakan baik Arjunasasrabahu maupun Parasurama sama-sama adalah awatara Wisnu – mengambil pendekatan seperti Nara dan Narayana, rsi kembar yang sama-sama Awatara Wisnu dalam versi 22 Awatara.
• Parasurama adalah awatara Wisnu paling ‘brangasan’ nomor dua setelah Narasinga.
• Parasurama dipercaya masih hidup sampai saat ini.
• Pasangan Parasurama yang bernama Dharini tidak pernah diceritakan mendampingi Parasurama saat Parasurama menjadi guru Bhisma, Drona, dan Karna. Kemungkinan besar istri Parasurama ini sudah meninggal lama sekali sebelum peristiwa Mahabaratha atau mungkin sebelum Ramayana.
• Setelah tak lagi menjadi awatara Wisnu, kekuatan Parasurama jauh berkurang meski masih cukup berbahaya untuk dihadapi para kesatria manapun yang ada di zaman itu.

AWATARA KELIMA – WAMANA AWATARA

Nama lain : Vamana, Aditya, Upendra, dan Triwikrama
Arti Nama : Si Pendek (Wamana), Putra Aditi (Aditya), Penguasa Tiga Dunia (Triwikrama), Saudara Lelaki Indra (Upendra)
Ras : Manusia Awatara (Awatara Wisnu).
Masa Kemunculan : Treta Yuga.
Senjata : Payung dan kendi air.
Lawan Utama : Mahabali.

Meskipun sudah mendapatkan Tirta Amerta, ada masanya para dewa mengalami kekalahan. Mahabali, Raja Asura yang sempat kena tipu Mohini pada masa Satya Yuga kini kembali untuk menantang para dewa. Dengan bantuan Sukracarya (salah satu Graha – penguasa Venus dan guru para Asura), ia memperoleh kekuatan dan pasukan yang cukup kuat untuk melawan Dewata kembali.  Indra dan Dewata lainnya yang merasa terdesak dinasehati untuk meninggalkan Swargaloka karena jika tetap tinggal, mereka akan benar-benar ditaklukkan Mahabali. Maka sekali lagi Dewata dipaksa meninggalkan kahyangan dan Mahabali pun mengangkat dirinya menjadi raja tiga dunia : dunia manusia, dunia dewa, dan dunia alam baka. Di dunia manusia, Mahabali meraih popularitas luar biasa di kalangan manusia oleh karena kemurahan hati dan keadilannya. Ia tidak memaksa manusia tunduk padanya dengan cara anarkisme seperti Raja-Raja Asura yang sebelumnya sehingga meskipun Raja Kahyangan bukan lagi Indra, sebagian besar manusia tidak protes.

Tapi tentu saja Indra yang diusir dari kahyangan tidak terlalu suka dengan kehadiran Mahabali. Ia sempat beberapa kali meminta para Trimurti ambil tindakan, tapi Wisnu belum mau ambil tindakan sampai tiba masanya ketika Mahabali sudah mulai merasa bahwa ia adalah entitas paling mulia, tak ada lagi makhluk yang lebih tinggi dari dirinya.

Saat itulah Wisnu menjelma melalui perantaraan Kashyapa dan Aditi, lahir sebagai putra Aditi, berwujud anak cebol yang kemudian menjadi brahmana seperti Kashyapa. Anak ini diberi nama oleh Aditi dan Kashyapa dengan nama Wamana, artinya ‘Si Pendek’.

Pada suatu ketika Mahabali mengadakan ‘open house’ dan mengundang segenap orang, terutama brahmana untuk bertandang ke istananya di Swargaloka. Wamana pun turut datang menemui Mahabali sambil membawa-bawa payung dan kendi air. Sukracarya – guru Mahabali – yang melihat kedatangan Wamana langsung kaget setengah mati. Ia lalu memperingatkan Mahabali dengan keras supaya Mahabali tidak memberikan apapun yang diminta Wamana.

Tapi Mahabali keras kepala. Dalam pandangannya, brahmana ini meskipun masih berwujud anak kecil (atau orang cebol) punya kharisma yang luar biasa. Mahabali menempatkan Wamana di tempat duduk kehormatan dan menanyakan apa permintaan Wamana.

“Apakah Paduka menginginkan tanah, emas, istana, atau gadis yang cantik?
Apakah menginginkan hewan gajah, kuda atau kijang?
Kami akan memberikan apa pun yang kami miliki yang diinginkan Paduka Brahmana,” tanya Bali.

Wamana menjawab pelan, “Kau telah berbicara penuh kerendahan hati, kebajikan dan kebangsawanan.  Sukra agung dan Brighu adalah Acaryamu, Gurumu. Prahlada Yang Agung adalah kakekmu, Wirocana Yang Dermawan adalah ayahmu. Aku yakin Raja tidak akan menarik mundur ucapanmu. Aku ingin tanah tiga langkah yang diukur oleh kakiku.”

Setengah kecewa karena sang brahmana kecil hanya meminta hal yang sepele baginya, Bali berucap, “Tentu saja Paduka masih anak-anak, bahasa anak-anak, permintaannya masih sederhana. Baik, Paduka tidak mau minta tumpukan emas dan hanya tanah tiga langkah? Aku pegang kata-kataku.”

Sambil tersenyum Vamana menjawab, “Aku menghargaimu Raja dermawan. Jika seorang manusia tidak bisa menaklukkan keinginan, semua hal di dunia tidak akan mencukupinya.”

Sekali lagi Sukracarya mewanti-wanti Mahabali, “Diriku mencintai semua Asura dan Raja Bali adalah murid terkasihku. Kamu telah gegabah Raja! Kau belum tahu soal langkah kaki Narayana! Memang menarik janji, membatalkan komitmen itu seperti menarik pohon dari tanah yang membuat cepat mengering dan jatuh. Akan tetapi dalam keadaan darurat Raja boleh ingkar janji. Raja belum tahu siapa sejatinya Brahmana kecil ini.”

Bali hanya menjawab, “Guru, dalam darahku mengalir darah nenek buyut Kayadhu yang suci, mengalir darah kakek Prahlada yang agung, diriku malu, merupakan keaiban untuk menarik perkataan. Kalaupun Brahmana ini adalah Narayana, maka pemberianku ini akan menjadi perbuatan mulia: memberi, telapak tangan menghadap ke bawah terhadap Narayana.”

Sukracarya pun menjadi marah dan akhirnya mengutuk Mahabali, “Raja telah merasa lebih bijak dariku. Aku kutuk sehingga kemuliaanmu segera punah.” Dan setelah itu Sukracarya pun pergi meninggalkan istana Mahabali.

Ketika kembali menemui brahmana kecil itu, Mahabali mendapat kejutan besar. Sesuatu yang ditakutkan oleh Sukracarya terjadi. Tubuh Wamana membesar dan terus membesar, wujud ini dinamakan Triwikrama. Kakinya konon bertambah menjadi tiga. Kaki pertamanya menutupi seluruh bumi, kaki keduanya menutupi seluruh kahyangan dan konon dari atas langit turun Baruna – dalam wujud naga – yang langsung melilit Mahabali dengan dibantu oleh Garuda.

“Belum tiga langkah, Raja,” kata Wamana.

Mahabali langsung tahu apa yang diminta oleh Wamana. Wamana memintanya untuk menyerahkan kembali hak kekuasaan Dewata pada para Aditya. Karena itu Bali berucap, “Diriku menyadari kesalahanku, aku berjanji dapat  memberikan semua milikku. Ternyata semuanya adalah milik-Mu. Terima kasih Narayana, hamba paham dengan menerima persembahan hamba, berarti semua kesalahan hamba telah diampuni. Terima kasih Narayana, biarlah langkah kaki ketiga-Mu, Engkau letakkan di kepala kami.”

Dan terjadilah demikian. Selanjutnya ada dua versi mengenai nasib Mahabali. Versi pertama menyatakan ia mati, versi kedua menyatakan ia tetap hidup. Tapi apapun versinya, semuanya bersepakat soal janji Wamana kepada Mahabali.

Mahabali adalah cucu Prahlada – putra Hiranyakasipu (lihat pembahasan Narasinga Awatara), karena itulah ia tidak seberingas Asura lainnya. Dan ketika Wisnu menyaksikan bahwa Bali tidak menentang otoritas kekuasaan Trimurti seperti pendahulu-pendahulunya, ia menjanjikan Bali akan terlahir kembali di Sutala – bagian dari Pratala (alam baka), dan pada Mahayuga selanjutnya ialah yang akan menjadi Indra. Untuk sementara di Sutala, ia menjadi asisten Batara Yama, mengurusi jiwa-jiwa orang mati.

• Ada sekte tertentu di India yang tidak mempercayai Wamana sebagai Awatara Wisnu melainkan Awatara Ganesha.
• Indra selalu berganti-ganti setiap Mahayuga. Indra pertama adalah Yajna, atau Wisnu sendiri. Baruna – penguasa lautan – pun dikatakan pernah menjadi Indra.
• Baruna punya dua wujud : wujud naga dan manusia. Tapi sebenarnya dia juga Aditya, dengan kata lain dia adalah ‘kakak’ dari Wamana dan Indra.
• Mahabali konon merupakan singkatan dari ‘Mahatma Bali’ yang artinya ‘Bali Yang Berjiwa Besar’.
• Mahabali adalah cucu Prahlada, dan dia termasuk dalam golongan Danawa.
• Narayana adalah nama lain Wisnu.

AWATARA KEEMPAT - NARASIMHA AWATARA


Nama lain : Narasinga, Narasingh, Narasimh
Arti Nama : Separuh Manusia (Nara) Separuh Singa (Simha)
Ras : Awatara Wisnu
Wujud : Manusia Berkepala Singa
Masa Kemunculan : Akhir Satya Yuga
Lawan Utama : Hiranyakasipu

Pada zaman ini, setiap orang berhak memuja Istadewata (Dewa Utama) –nya masing-masing. Ada yang memuja Brahma, Wisnu, Siwa, Indra, Bayu, Baruna, atau yang lainnya. Tetapi karena saudara lelakinya (Hiranyaksa) dibunuh oleh Wisnu beberapa tahun yang lalu, Hiranyakasipu menjadi sangat marah dan bersumpah tidak akan pernah memuja dewa yang namanya Wisnu, bahkan ia bersumpah akan melenyapkan Wisnu dan seluruh pemuja Wisnu dari kerajaannya.

Pemaksaan kehendak paling efektif dilakukan dengan anarki, hal itu dapat dilakukan kalau dirinya memiliki kesaktian. Maka Hiranyakasipu pun mulai bertapa dengan keras, memusatkan perhatiannya hanya kepada Bhatara Brahma selama bertahun-tahun. Brahma pun harus menepati hukum yang berlaku, di mana setiap makhluk yang melakukan tapa dengan sungguh-sungguh harus dikabulkan keinginannya.
Ketika Brahma berkenan untuk muncul dan menanyakan keinginannya, Hiranyakasipu menyatakan bahwa ia ingin diberikan kehidupan abadi yang tidak bisa mati dan tidak bisa dibunuh, Namun Dewa Brahma menolak, dan menyuruhnya untuk meminta permohonan lain.

Tak hilang akal, Hiranyakasipu meminta anugrah agar dia tidak bisa dibunuh oleh dewa, manusia ataupun hewan, baik saat pagi siang maupun malam, baik saat ia berada di langit maupun berpijak di bumi, baik oleh api, air ataupun senjata, baik saat ia ada di dalam maupun luar kediamannya. Mendengar permohonan tersebut, Dewa Brahma mengabulkannya.

Setelah mendapatkan kekuatan itu, ia melarang semua orang di kerajaannya memuja dewa lain selain Siwa (dan Brahma), dan perintah itu juga hendak ia berlakukan juga bagi istrinya. Yang bernama Lilawati. Bhatara Indra yang tahu akan rencana Hiranyakasipu langsung mengevakuasi Lilawati dari istana Hiranyakasipu.

Ketika Bhatara Indra memberi perlindungan pada Lilawati, Lilawati tengah hamil tua dan beberapa waktu kemudian melahirkan seorang putra bernama Prahlada. Lilawati dan Prahlada tinggal dalam perlindungan dan ajaran Rsi Narada – brahmana pemuja Wisnu, salah satu dari tujuh Sapta Rsi.

Anak itu dididik oleh Narada untuk menjadi anak yang budiman, menyuruhnya menjadi pemuja Wisnu, dan menjauhkan diri dari sifat-sifat keraksasaan ayahnya.
Hiranyakasipu beberapa kali mencoba membujuk anaknya untuk meninggalkan Wisnu tapi Prahlada tidak mau. Mengetahui para dewa melindungi istri serta anaknya, Hiranyakasipu menjadi sangat marah. Ia semakin membenci Dewa Wisnu, dan anaknya sendiri.

Kesal dengan sikap anaknya, Hiranyakasipu berkali-kali mencoba membunuh anaknya dengan berbagai metode : dijatuhkan dari tebing, ditebas, dipukuli, sampai dihantam dengan astra, tapi anehnya Prahlada ternyata tidak juga mati.
Setiap kali ia membunuh putranya, ia selalu tak pernah berhasil karena dihalangi oleh kekuatan gaib yang merupakan perlindungan dari Dewa Wisnu. Ia kesal karena selalu gagal oleh kekuatan Dewa Wisnu, namun ia tidak mampu menyaksikan Dewa Wisnu yang melindungi Prahlada secara langsung. Ia menantang Prahlada untuk menunjukkan Dewa Wisnu.
Saat ayah dan anak itu bertemu di istana Hiranyakasipu, Sang Raja Ashura menantang Prahlada.
Hiranyakasipu : “Katakan di mana aku bisa temukan Wisnu! Biar kutantang dia bertarung!”
Prahlada : “Ia ada dimana-mana, Ia ada di sini, dan Ia akan muncul.”

Mendengar jawaban itu, ia merasa diolok-olok dengan perkataan anaknya, hiranyakasipu sangat marah, mengamuk dan menghancurkan segala sesuatu didekatnya. Hiranyakasipu memukul salah satu pilar istananya hingga retak menjadi dua bagian. Tiba-tiba terdengar suara yang menggemparkan dari pilar yang seharusnya kosong, keluarlah sesosok manusia raksasa berkepala singa. Sosok ini memiliki empat tangan dan memanggul seekor naga di punggungnya. Dan sosok ini lah yang disebut Narasinga, Awatara Wisnu.
Narasinga datang untuk menyelamatkan Prahlada dari amukan ayahnya sekaligus menghukum Hiranyakasipu atas perbuatannya.

Hiranyakasipu pun maju menyerang Narasinga. Pertarungan dua makhluk ini berlangsung sampai senja. Ketika senja mulai turun, Narasinga mencengkeram Hiranyakasipu, mendudukkannya di pangkuannya lalu mencabik-cabik perut Hiranyakasipu dengan kukunya. Tindakan ini membuat berkah dari Brahma tidak berlaku karena :
✔Narasinga bukan manusia, binatang, ataupun dewa. Ia adalah perwujudan ketiganya.
✔Hiranyaksipu dibunuh bukan saat pagi, siang, atau malam melainkan senja – peralihan dari siang menuju malam.
✔Hiranyaksipu tidak dibunuh dengan senjata, air, atau api melainkan oleh kuku Narasinga.
✔Hiranyaksipu tidak dibunuh di luar ataupun di dalam kediamannya, bukan pula di darat atau udara. Ia dibunuh di pangkuan Wisnu.

Narasinga memberi contoh bahwa Tuhan itu ada dimana-mana.
Rasa bakti yang tulus dari Prahlada menunjukkan bahwa sikap seseorang bukan ditentukan dari golongannya, ataupun bukan karena berasal dari keturunan yang jelek, melainkan dari sifatnya. Meskipun Prahlada seorang keturunan Asura, namun ia juga seorang penyembah Wisnu yang taat.

• Naga yang dipanggul Narasinga adalah Ananta Sesa. Pada kesempatan-kesempatan berikutnya Ananta Sesa setidaknya dua kali turut mendampingi penjelmaan Wisnu ke dunia, yakni sebagai Laksmana – saudara Rama – dan Baladewa – saudara Kresna.
• Narasinga adalah awatara Wisnu paling buas dan ‘brangasan’.

Dalam satu versi diceritakan : setelah membunuh Hiranyakasipu, ia lepas kontrol dan tak terkendali. (Aksi Narasinga baru berhenti setelah Siwa turun ke dunia dan bertempur melawan Narasinga)
Pembahasan selanjutnya...

AWATARA KETIGA - WARAHA AWATARA


“Kau mengatakan bahwa dirimu pembela para Ashura dan ingin membersihkan jalan Ashura dari duri yang melukainya. Aku kau anggap duri. Bukan, Aku bukan duri, Aku Maha Pembalas Kejahatan.”
–Waraha Awatara–

Ras : Awatara Wisnu
Wujud : Celeng / babi hutan
Masa Kemunculan : Akhir Satya Yuga
Lawan Utama : Hiranyaksa

Pada peristiwa di masa kemunculan Matsya Awatara, Banjir besar menerjang bumi dan menenggelamkan seluruh daratan. Tapi sebenarnya yang terjadi lebih parah daripada itu.

Konon bumi terjerumus ke dalam kekacauan Mahapralaya. Pada mulanya semuanya tenang dan damai sampai akhirnya Wisnu yang mulanya tertidur memunculkan sebuah sulur yang menunjang sebuah bunga teratai raksasa di ujungnya. Dari dalam bunga teratai itu munculah Brahma.

Brahma yang kaget dipanggil ‘mendadak’ seperti itu langsung menyaksikan yang ada di dunia ini hanya ada kekacauan. Kekagetan keduanya adalah ia duduk di atas bunga teratai raksasa yang pangkalnya tak terlihat, tak peduli seberapa jauhnya Brahma mencoba turun. Akhirnya Brahma menyerah mencari pangkal teratai itu dan memilih untuk melakukan tapa. Dalam tapanya Beliau mendapat ‘pesan’ dari Wisnu. “Brahma, waktunya Anda menciptakan kembali dunia dan segala isinya sekali lagi.”

Brahma kembali bertapa. Dalam tapanya ia memunculkan sepuluh Prajapati antara lain : Atri, Angirasa, Pulastya, Pulaha, Kratu, Bhrigu, Daksa, Marici, Wasishta, dan Narada. Selain itu juga lahir entitas bernama Dharma dan Adharma. Lalu ia menciptakan pasangan Manu : Swayambhu Manu dan istrinya Satarupa. Swayambhu Manu, Prajapati, dan Brahma kemudian mulai mengukir isi bumi sekali lagi.

Tapi setelah beberapa lama, Brahma merasa ada yang ‘tidak beres’. Penciptaan berjalan amat lambat sehingga Brahma memanggil kembali Swayambhu Manu dan bertanya apa masalahnya sehingga pekerjaan Swayambhu terhambat.

Dan Sang Manu menjawab, “Saya bekerja sebagaimana Ayahanda perintahkan, tapi bumi sedang tenggelam!”

Brahma berpikir sejenak. Prajapati dan Manu jelas tidak cukup kuat untuk mengeluarkan bumi dari lautan. Akhirnya ia memutuskan untuk minta bantuan Wisnu. Dari lubang hidung Brahma keluarlah seekor celeng (babi hutan) sebesar kelingking Brahma. Celeng itu langsung membesar menjadi celeng raksasa, Waraha Awatara. Waraha kemudian mengangkat bumi dari dalam samudera dan terus menopangnya sampai daratan-daratan bumi benar-benar stabil.

Di antara para Prajapati ada seorang yang bernama Kashyapa. Kashyapa beristrikan 13 orang putri Daksha – yang notabene adalah saudaranya laki-lakinya. Setiap menjelang matahari terbenam, para Prajapati – termasuk Kashyapa – biasanya melakukan pemujaan pada Brahman (dalam wujud Trimurti), dalam hal ini Kashyapa hendak memuja Siwa.

Tiba-tiba salah satu istrinya, Diti, datang pada Kashyapa dan minta ‘dilayani di ranjang’. Kashyapa sih mau-mau saja melayani istrinya yang satu ini, tapi ia harus melaksanakan upacara pemujaan sehingga ia mengatakan, “Tentu Diti, tapi nanti. Ini waktu suci pemujaan.”

Tapi Diti tidak mau menunggu dan dalam benaknya timbul pikiran, “Idih, suamiku sok suci banget! Seberapa kuat sih suamiku bakal bertahan?”

Diti pun mengambil inisiatif ‘ganas’ sehingga Kashyapa pun ‘takluk’.

Kesalahan besar bagi Kashyapa dan Diti!
"Melakukan" saat suaminya hendak memuja Siwa menghantarkannya pada kutukan. Diti kemudian mengandung dan kelak akan melahirkan dua Ashura. Yang satu bernama Hiranyaksa dan yang satu lagi bernama Hiranyakashipu.

Ashura terkenal sekali dengan kekuatan mereka yang setara dewa dan hobi mereka yang suka berbuat onar. Ashura yang bisa mengontrol emosinya bisa saja menjadi dewa, tapi Hiranyaksa tidak termasuk salah satunya. Ia punya pemikiran “Untuk menjadi dewa, aku harus mengalahkan dewa-dewa dan merebut tahta mereka.”

Jadi itulah yang dia lakukan. Ia menghajar para dewa, minus Baruna, dan menaklukkan tiga dunia (Patala dan Naraka – alam baka, Swargaloka – kahyangan, dan Arcapada – dunia manusia).  Sampai ia menyadari bahwa ada empat dewa yang belum mengakui kehebatannya : Tiga Trimurti dan Baruna. Ia tidak mengacuhkan Baruna, Siwa tidak diketahui rimbanya, Brahma adalah kakeknya – jadi ia tidak mau melawannya, jadi satu-satunya Trimurti yang hendak ia tantang adalah Wisnu.

Ketika ia berkeliling mencari Wisnu, ia bertemu Baruna yang sedang dalam wujud ular raksasa dan menantangnya berkelahi. Baruna menolak berkelahi dan menyatakan bahwa lawannya yang sebanding dengannya adalah Wisnu. Ia menyuruh Hiranyaksa mencari Narada guna menanyakan keberadaan Wisnu.

Narada menunjukkan tempat Wisnu berdiam pada Hiranyaksa dengan ‘senang hati’, “Kamu ingin berkelahi dengan Wisnu? Dia sedang mengambil wujud Waraha, Celeng Raksasa. Dia sedang di Rasatala, sedang mengangkat bumi.”

Singkat cerita, Hiranyaksa ‘mengganggu’ Waraha yang tengah menopang bumi. Hiranyaksa menyatakan dirinya sebagai pembela Ashura dan hendak membersihkan jalan Ashura dari duri yang melukai mereka.

Wisnu langsung menggeram, “Aku sedang menjadi binatang buas maka Aku mendengar ocehanmu. Kau mengatakan bahwa dirimu pembela para Ashura dan ingin membersihkan jalan Ashura dari duri yang melukainya. Aku kau anggap duri. Bukan, Aku bukan duri, Aku Maha Pembalas Kejahatan. Sudah banyak sekali korban kejahatanmu. Sudah berulang kali kau menggunakan kekerasan dalam memaksakan kehendakmu. Kau telah menakut-nakuti manusia dengan menebar ancaman. Aku tidak suka kekerasan, tetapi Aku sedang mewujud menjadi binatang buas, mari bertarung! Saatnya kau mempertanggung-jawabkan kekerasan yang telah kau lakukan berkali-kali.”

Jadi dua makhluk itu pun bertarung. Saat mereka bertarung konon segala bencana terjadi di muka bumi. Ombak dan gelombang besar menggelora di seluruh samudra, gempa bumi di mana-mana, semua gunung meletus, dan topan mengamuk di berbagai tempat. Konon pertarungan ini berlangsung selama 1000 tahun sebelum akhirnya Hiranyaksa terbunuh oleh Waraha.

Setelah Beliau memenangkan pertarungan, Beliau mengangkat bumi yang bulat seperti bola dengan dua taringnya yang panjang mencuat, dari lautan kosmik, dan meletakkan kembali bumi pada orbitnya. Setelah itu, Dewa Wisnu menikahi Dewi Pertiwi dalam wujud awatara tersebut.
Waraha Awatara dilukiskan sebagai babi hutan yang membawa planet bumi dengan kedua taringnya dan meletakkannya di atas hidung, di depan mata. Kadangkala dilukiskan sebagai manusia berkepala babi hutan, dengan dua taring menyangga bola dunia, bertangan empat, masing-masing membawa: cakra, terompet dari kulit kerang (sangkakala), teratai, dan gada.

• Diti tidak pernah melahirkan anak-anak yang ‘beres’. Nyaris semua anaknya adalah Ashura dan nasib mereka selalu berakhir dengan dibunuh oleh Wisnu atau Dewata, kecuali anaknya yang terakhir. Berbeda sekali dengan saudarinya Aditi yang melahirkan para dewa golongan Adhitya.
• Pertarungan Waraha dengan Hiranyaksa adalah pertarungan Wisnu yang paling lama sebagai Awatara. Jadi boleh dikata, Hiranyaksa adalah salah satu Ashura paling kuat.
• Daksha – saudara Kashayapa – adalah ayah mertua Siwa.

AWATARA SIWA - SARABHA AWATARA


Nama Lain             : Sharabha, Sarabesvara
Arti Nama.            : Jiwa Yang Bersinar / Pembebas
Ras                        : Awatara Siwa
Masa Kemunculan : Akhir Satya Yuga
Lawan Utama        : Narasinga Awatara

Sarabha digambarkan sebagai sesosok makhluk yang memiliki karakteristik sama dengan Narasinga yakni makhluk campuran. Bedanya, jika Narasinga adalah separuh manusia – separuh singa, Sarabha adalah makhluk separuh singa-separuh burung. Penggambaran Sarabha bermacam-macam. Ada yang menggambarkan Sarabha sebagai burung raksasa bertangan singa, ada pula yang menggambarkannya sebagai makhluk bertubuh singa, berkepala burung garuda, dan berbelalai gajah. Selain itu ada juga yang menggambarkan Sarabha sebagai singa berkaki delapan, bertubuh manusia, dan berkepala burung.

Apapun penggambarannya, mereka semua sepakat bahwa Sarabha memiliki karakteristik gabungan singa dan burung pemangsa dan jelas sekali memiliki kekuatan yang cukup dahsyat untuk menandingi Narasinga Awatara.

Sarabha adalah awatara Siwa yang muncul pasca Narasinga Awatara mengalahkan Asura Hiranyakasipu. Saat menghabisi Hiranyakasipu, Narasinga meminum setiap tetes darah Hiranyakasipu dan mencabik-cabik jasad Asura itu menjadi serpihan-serpihan kecil kemudian mengalungkannya pada dirinya sendiri. Hal itu Narasinga lakukan supaya tidak ada lagi sisa-sisa tubuh fisik Hiranyakasipu yang melakukan kontak dengan semesta.

Tapi Wisnu yang mengambil wujud Narasinga itu rupanya telah lepas kontrol. Pasca menghabisi Hiranyakasipu, Narasinga melampiaskan amarahnya ke dunia manusia dan membuat kekacauan di mana-mana. Prahlada dan Laksmi kemudian muncul di hadapan Narasinga dan memintanya untuk tenang, tapi Narasinga tidak mengacuhkan mereka. Para dewa pun berusaha menghalangi Narasinga tapi upaya mereka juga tidak berhasil. Karena itu mereka memohon pada Siwa untuk memberikan bantuan kepada mereka.

Siwa sekali lagi mengutus Virabhadra untuk maju perang, tapi kekuatan Virabhadra ternyata tidak sebanding dengan Narasinga Awatara. Ketika tahu bahwa salah satu prajurit terbaiknya telah dikalahkan, Siwa turun ke bumi dan mengambil sosok separuh singa dan separuh burung bernama Sarabha. Dalam versi yang menyatakan bahwa Virabhadra adalah aspek lain Siwa, bukan makhluk ciptaannya, Siwa langsung mengambil rupa sebagai Sarabha setelah mendapati bahwa dalam wujudnya sebagai Virabhadra, Narasinga masih belum bisa dikalahkan.

Sarabha dan Narasinga pun bertemu dan pertarungan antara dua awatara penjelmaan kedua Trimurti itu pun tak terhindarkan. Delapan belas hari kemudian Narasinga takluk di hadapan Sarabha. Sarabha kemudian membunuh Narasinga Awatara guna mengembalikan jiwa Wisnu ke tempat asalnya yakni Vaikuntha. Versi lain menyatakan bahwa Narasinga langsung tersadar dari ‘kegilaannya’ dan langsung memuja Sarabha yang tak lain adalah Siwa.

• Dalam satu versi, Narasinga Awatara berubah rupa menjadi Gandaberunda – sosok makhluk buas berwujud burung berkepala dua – saat melawan Sarabha.

• Sarabha adalah satu-satunya perwujudan Awatara Siwa yang ‘penuh’, bukan hanya manifestasi sebagian kekuatannya semata seperti awatara-awatara sebelumnya.

• Pasca dikalahkan Sarabha, Wisnu tidak pernah lagi mengambil wujud awatara hewan (atau separuh hewan).

“Aku memberi hormat kepada Dewa Pertama yang adalah Brahman, insan terbaik, ayah semesta, yang teragung di antara para dewa, yang menciptakan Brahma dan memberikan seluruh kitab Veda kepada Brahma pada permulaan masa, yang adalah ayah Wisnu dan segala dewa, satu-satunya yang berhak dipuja, dan tetap ada ketika banjir besar menyapu dunia. Ia adalah yang lebih besar dari setiap insan manapun, insan terbaik dan penguasa segala makhluk.

Ia adalah Maheswara, ia mengambil bentuk sebagai Sarabha lalu membunuh Narasinga yang telah memporakporandakan dunia. Sarabha, dengan kuku tajamnya, mengoyak Wisnu yang tengah mengambil wujud Narasinga. Dia adalah yang telah mengambil rupa sebagai Veerabhadra.”

(Sarabha Upanishad, ayat 1-4)

Senin, 23 Mei 2016

AWATARA PERTAMA – MATSYA AWATARA

Ras                        : Awatara Wisnu
Wujud                    : Ikan Raksasa
Masa Kemunculan : Satya Yuga
Lawan Utama.      : Ashura Hayagriva

Suatu ketika Brahma yang kelelahan setelah selesai menciptakan suatu Yuga memutuskan untuk tidur dan beristirahat. Kala Brahma tengah tertidur itulah, sesosok Ashura bernama bernama Hayagriva memasuki Brahmaloka dan mencuri Veda dari Brahma. Wisnu yang tengah mengawasi dunia dari Vaikuntha langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang diambil dari Brahmaloka. Ia juga melihat sang Ashura Hayagriva turun dari Brahmaloka dan menyelam ke dalam laut, bersembunyi di sana.

Di saat yang sama Wisnu melihat seorang raja (Manu / Prajapati) bernama Vaivasvata Manu sudah sejak lama berdoa supaya ia bisa bertemu dengan Wisnu. Karena meskipun ia putra Brahma, sulit sekali baginya untuk bisa bertemu Wisnu. Sadar bahwa Veda akan jadi sangat berbahaya di tangan Ashura, Wisnu akhirnya turun ke dunia dan menjelma menjadi seekor ikan kecil yang berenang di sungai tempat Manu Vaivasvata biasa minum dan berdoa.

Saat Sang Manu menangkupkan tangannya untuk minum, ia mendapati seekor ikan kecil di antara kedua tangannya. Ikan kecil itu memohon agar Sang Manu bersedia membawanya menjauh dari sungai. Sang Manu menyanggupi permohonan Sang Ikan dan memasukkan ikan itu ke dalam kamandalam – teko air dari bahan logam – miliknya. Sesampainya di istana ia tetap membiarkan sang ikan dalam kamandalam, namun esok harinya ia mendengar si ikan berteriak minta tolong dan mendapati Sang Ikan sudah membesar seukuran kamandalamnya. Ia segera memasukkan ikan itu ke dalam tempayan dan tak lama kemudian ikan itu tumbuh sebesar tempayan, ia beralih menuang ikan itu ke dalam gentong air dan didapatinya ikan itu kembali membesar dengan kecepatan luar biasa.

Karena kehabisan akal, Sang Manu segera membopong ikan itu ke sungai tempat ia menemukannya dan menceburkan ikan itu ke sungai itu. Sekali lagi ikan itu membesar dengan kecepatan yang tidak wajar. Pada akhirnya Sang Manu memutuskan melempar ikan itu ke laut dan saat itu jugalah ikan itu membesar ke ukuran maksimalnya dan sebuah tanduk tumbuh di dahinya. Ukurannya ini melebihi ukuran Ashura manapun yang ada di bumi saat itu.

Sang Manu langsung bersimpuh ketika menyadari siapa sebenarnya ikan ini. Manu Vaivasvata menyatakan diri bersedia memberikan pertolongan apapun pada Wisnu tapi Wisnu mengatakan bahwa ia kemari untuk menolong Sang Manu. Ia meminta Sang Manu membuat bahtera besar dan membawa segala benih tanaman dan aneka hewan yang ada di muka bumi, serta seluruh Saptarsi (Tujuh Rsi) bersama keluarga mereka, karena Yuga ini akan segera musnah diterjang air bah. Ia juga memerintahkan Sang Manu untuk mengajak serta Raja Naga Vasuki (Basuki) supaya Sang Manu bisa menggunakan naga itu sebagai tali pengait antara bahteranya dengan tanduk Matsya.

Manu menyanggupi perintah Sang Ikan dan segera pulang untuk mengerjakan bahtera yang dimaksud. Sementara itu Matsya menyelam ke dasar samudera untuk mencari Hayagriva. Begitu menemukan Sang Ashura, Matsya langsung menyerangnya tanpa ampun. Pertarungan Matsya dan Hayagriva berlangsung relatif sebentar dibandingkan pertarungan Wisnu dengan Ashura lainnya (hanya beberapa hari). Ketika Hayagriva tewas, Matsya mengambil kembali lontar Veda yang sempat dicuri dan berenang kembali ke permukaan.

Di permukaan ia dapati Sang Manu telah menyelesaikan bahteranya. Basuki segera melilitkan ekornya di badan kapal sementara lehernya ia lilitkan ke tanduk Matsya. Setelah itu Matsya segera menghela bahtera Manu menjauh dari daratan.

Air bah dan badai berkepanjangan menerjang tak berapa lama kemudian dan Matsya membawa bahtera itu ke sebuah tempat yang aman, daratan yang tidak terjangkau air bah, dan menurunkan seluruh penumpang bahtera di sana. Sesudah tugasnya selesai, Sang Matsya kembali menjadi sosok Wisnu dan terbang kembali ke Vaikuntha.

• Hayagriva selain merupakan nama Ashura juga merupakan salah satu awatara Wisnu versi Bhagavata Purana.

• Selama bahtera ditarik oleh Matsya, para Manu dan Saptarsi ‘diajak ngobrol’ oleh Matsya (soal Veda tentunya)

• Basuki adalah adik dari Ananta Sesa, Ananta Sesa sendiri adalah naga yang mengabdi pada Wisnu.

• Vaisvata Manu dan Saptarsi akan menurunkan manusia-manusia yang ada di muka bumi setelah bumi mengering.

Jumat, 24 Juli 2015

SEJARAH PURA SAKENAN DESA ADAT SERANGAN DENPASAR SELATAN BALI,INDONESIA


Pura Sakenan terletak di Pulau Serangan, Desa Serangan, Denpasar Selatan. Pura atau kahyangan ini dibangun oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakretha bersamaan dengan pembangunan beberapa pura lainnya pada zaman pemerintahan raja suami-istri Sri Masula Masuli. Dalam lontar Usana Bali antara lain disebutkan, Mpu Kuturan juga disebut Mpu Rajakretha. Ia membangun pura berdasar konsep yang dibawanya dari Majapahit (Jawa Timur), diterapkan di Bali seluruhnya. Mengenai bertahtanya Sri Masula Masuli di Bali dapat diketahui dari prasasti Desa Sading, Mengwi, Badung. Prasasti itu bertahun Icaka 1172 atau 1250 M. Di situ disebut, Raja Sri Masula Masuli menjadi raja di Bali sejak tahun Icaka 1100 (1178 M). Raja ini memerintah selama 77 tahun. Artinya, ia mengakhiri pemerintahannya sekitar tahun Icaka 1177 (1255 M). Ketika Danghyang Nirartha mengadakan perjalanan keliling Bali mengunjungi tempat-tempat suci, ia sampai pula di Pulau Serangan. Lalu, di bagian barat pantai Pulau Serangan dibangunlah pura. Di situ, Danghyang Nirartha dapat menyatukan pikirannya secara langsung. Mengenai peristiwa ini, dalam Dwijendra Tattwa, antara lain diuraikan sbb.; ìÖsesudah Danghyang Nirartha mensucikan diri di Bukit Payung, lalu beliau meneruskan perjalanan dengan menyusur pantai laut yang sangat indah dan mempesonakan menuju arah utara. Pantai yang dilalui cukup permai dengan pasirnya yang memutih memberikan keindahan alam yang mempesonakan, ditambah lagi dengan herembusnya angin dan lautan yang dapat menyegarkan jasmani beliau.î Lalu disebutkan lagi, ìDalam perjalanannya ini kemudian beliau menjumpai dua buah pulau kecil yaitu Nusa Dwa. Di pulau ini
Danghyang Nirartha lagi beristirahat untuk melepaskan lelah, dan di sinilah beliau menyusun sajak atau kakawin Anjangsana Nirartha. Setelah selesai mencatat dan menyusun segala sesuatu yang berkaitan dengan sajak ini, Danghyang Nirartha lagi melanjutkan perjalanan menuju arah utara.î Tak dikisahkan bagaimana halnya di dalam perjalanannya, sampailah Danghyang Nirartha di suatu pulau kecil yaitu Serangan. Pada pantai bagian barat Pulau Serangan, Danghyang Nirartha beristirahat sambil mengagumi keindahan alam sekitarnya. Di tempat itu ia merasakan dan menyaksikan perpaduan harmonis antara daratan pulau Serangan dengan laut yang mengelilinginya. Karenanya, Danghyang Nirartha berketetapan hati dan memutuskan untuk tinggal dan bermalam beberapa hari di sana. Akhirnya, di situlah Danghyang Nirartha membangun palinggih (bangunan suci) di Pura atau Kahyangan Sakenan. Sakenan berasal dan kata cakya yang berarti dapat langsung menyatukan pikiran. Pujawali atau piodalan di Pura Sakenan jatuh pada setiap 210 hari, pada Sabtu Kliwon, wara Kuningan, bertepatan dengan hari raya Kuningan. Sedangkan keramaiannya diselenggarakan pada Minggu Umanis, wara Langkir. Ada hal penting yang setidaknya harus diperhatikan oleh para umat atau pemedek yang hendak tangkil ngaturang bakti atau bersembayang ke Pura Sakenan. Konon, hal ini masih rancu terjadi. Yang sering terjadi, umat melakukan persembahyangan di Pura Dalem Sakenan (pura yang di pinggir paling barat) dan di Pura Susunan Agung (di sebelah timur Dalem Sakenan), setelah itu langsung pulang. Dalam pasamuan atau rapat nyanggra piodalan di Pura Sakenan yang sudah digelar, dijelaskan bahwa persembahyangan itu merupakan satu paket. Artinya, pemedek harus bersembahyang (1) ke Pura Susunan Wadon ó sekitar 0,5 km ke timur Pura Sakenan), (2) ke Pura Susunan Agung, dan (3) ke Pura Dalem Sakenan ó pada pelingih paling barat di pinggir pantai yang berbentuk Padmasana. Dalam kajian sastranya, rangkaian ini bisa di telusuri dari kata Pura Susunan Wadon, Susunan Agung, dan Pura Dalem Sakenan. Terdapat suatu pengertian Purusa, Pradhana dan Susunan Agung adalah Lingga, Yoni dan Susunan Agung adalah tempat penyatuan antara Purusa dan Pradana ó penyatuan sang diri dengan maharoh sebagai asal mula setiap mahluk hidup.
Pemahaman inilah yang ditemukan Mpu Kuturan sehingga melahirkan Pura Sununan Lanang dan Susunan Wadon. Pun dengan kehadiran Dang Hyang Nirartha, juga terjadi hal yang sama. Sehingga, sebagai penghormatan terhadap beliau, maka dibuatkanlah pelinggih Pura Dalem Sakenan yang merupakan penyatuan antara Siwa dan Budha.

Sumber : www.denpasarkota.go.id/index.php/.../Pura-Sakenan

Kamis, 23 Juli 2015

TERLALU MANIS

Kisah : Fiksi
Edisi  : Galau suka suka

Sebagai pencinta seni, saya suka musik. Dan tak jarang ku mengibur diri lewat genjrengan gitar bolong yang ku punya.

Pada suatu ketika, ku ambil gitar dan mulai memainkan. Sebuah lagu lama yang dulu biasa aku dan dia dengarkan dan nyanyikan. Lagu yang dulu ketika mendengarkannya sangat indah, yang membuat serasa melayang dalam tiap alunan liriknya.

Tapi kini tak sepatah kata pun yang bisa terucap saat hendak menyanyikan kembali disini.
Yang ada hanya ingatan tentangnya dikepala. Bayang-bayang indah saat bersama dulu, yang kini sudah jauh berbeda.

Hari berganti, sang angin tetap berhembus. Cuaca berubah, daun daun masih tetap tumbuh.
Mereka tetap menjalankan tugasnya seperti biasa meski tanpa ada dia disisi ku lagi.
Tapi kata hatiku tetap tak berubah, ku biarkan berjalan apa adanya seperti yang dia hendaki. Meski sebenarnya diri ini rapuh tanpanya.

Dimalam yang dingin dan gelap sepi ini, benak ku melayang pada kisah kita. Kisah yang tanpa sebab berakhir begitu saja. yang hanya sekejab, dan terasa tak lama.

Jujur,
Terlalu manis untuk dilupakan
Kenangan yang indah saat bersamamu, kini hanya tinggalah mimpi.😩😭
Terlalu manis untuk dilupakan
Walau berakhir seperti ini, tapi akhirnya ku sadar. Bila memang dia tak mencintai ku, maka tak akan ada kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan. Semua kenangan manis itu tak kan terjadi diantara kita.
Dan disitu kadang saya merasa senang😁

Dan itulah sang hati yang menggungkap, mengungkap tentang rasa yang dirasakan oleh salah satu grup band indonesia. "Slank" yang mempoppularkan dan saya kembangkan lagi dicerita dongeng ini, tak lain dan tak bukan hanya untuk dia seorang. Yang slalu ku puji dan ku puja didalam sini👉👉💖 hingga jadi 👻

Senin, 20 Juli 2015

SEJARAH ADANYA KASTA DI BALI

BALI & HINDU

Kehancuran Majapahit tahun 1478, bukannya menjadi pelajaran bagi umat Hindu di Bali. Seorang pedarmayatra (“pegungsi”) dari Majapahit diangkat menjadi Bagawanta kerajaan di Gelgel. Beliau adalah Danghyang Nirarta.

Tahun 1489, sebelas tahun setelah Kerajaan Majapahit Runtuh, Daghyang Nirarta datang ke Bali dengan membawa ajaran-ajaran yang sudah dipengaruhi oleh peta politik global saat itu (peta politik global abad 14-16 M ), yaitu konsep kasta-kasta dan perbudakan. DanghyangNirartha juga melarang anak-anaknya menyembah patung-patung.(lihat : Bisama Danghyang Nirartha kepada keturunannya), ini jelas mengadopsi Al Quran yang menganggap patung sebagai Berhala.

Di Lombok Danghyang Nirarta mengajarkan Islam wetu telu, ajarannya dapat dilihat dalam geguritan Islam wetu telu, beliau bergelar Haji Duta Semeru, konon entah benar apa tidak beliau sudah pernah naik haji ke Mekkah dan namanya menjadi Haji Gureh (Singgih Wikarman,1998).Ada ceritra kesamaan kemampuan antara Danghyang Nirarta dengan Syekh Siti Jenar - tokoh sufi (Islam) yang dianggap Murtad oleh para Wali, yaitu sama-sama mampu menghidupkan cacing jadi manusia.

Menurut Babad Brahmana: “sewaktu Danghyang Nirarta tiba di Bali,terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan. Putri beliau yang bernama Ida Ayu Swabawa dicemari dan diperlakukan tidak senonoh oleh penduduk. Mendengar kisah sedih putrinya tersebut, Danghyang Nirartha berkenaan memberikan ajaran ilmu Rahasya keparamartaan yang mampu melenyapkan segala dosa. Setelah menerima ajaran itu Ida Ayu Swabawa lenyap menggaib dan berhasil mencapai alam Dewa, dan di stanakan di Pura Pulaki sebagai Dewi Melanting Adapun orang-orang yang menodai Ida Ayu Swabawa dikutuk menjadi wong Gamang di desa Pegametan”.(Soebandi,1998)

Kisah Ini merupakan upaya pemurtadan terhadap keyakinan agama Hindu, kerena umat Hindu digiring untuk mengganti peran Dewi Sri Laksmi - Sakti Dewa Wisnu/Betare Sedana, sebagai Dewa-dewi pemberi kemakmuran dan kesejahteraan, dengan Ida Ayu Subawa seorang anak manusia yang dinodai oleh penduduk yang tiada lain adalah anaknya sendiri dan kemudin diperkenalkan kepada umat sebagai Dewi Melanting. .

Selanjutnya dalam Babad tsb juga disebutkan “Ketika Danghyang Nirarta memberikan ajaran Ilmu rahasya kepada putrinya itu, ternyatadidengar oleh insan berwujud seekor cacing kalung, cacing kalung tersebut, tiba-tiba supa (musna) dosa papanya dan seketika menjelmamenjadi Manusia perempuan dan diberi nama Nyi Berit”.

Kisah ini mencerminkan sikap “ rasis (kastaisme)” dan sikap “megalomania-nya” si penulis babad Brahmana, karena menggatakan Nyi Berit sebagai Jelmaan Cacing kalung. Karena sejatinya Nyi Berit adalah penduduk Bali yang lebih dahulu menetap di Bali (Bali Age) yang kebetulan hidupnya saat itu kurang beruntung. Sikap rasis dansuperior ini ternyata berbuah karma, karena dikemudian hari Nyi Berit ini melahirkan anak dari Danghyang Nirartha.

Dalam babad Brahmana juga ditemukan kalimat : "rambut beliau Danghyang Nirartha di-Stanakan di Pura Kapurancak yang disebut SINIWI DI KAPURANCAK, sehingga Pura tersebut disebut PURA RAMBUT SIWI".

Penyebutan rabut Danghyang Nirartha yang Siniwi di Kapurancak supaya dipuja oleh umat Hindu Bali seluruhnya, mencerminkan kepribadian si penulis Babad yang mencoba mengeser keyakinan Umat Hindu Bali yang semula memuja Betare Rambut Sedana sebagai manifestasi Dewa Wisnu bersama Saktinya Dewi Sri-laksmi, diganti oleh beliau Danghyang Niratha bersama anaknya Ida Ayu Swabawa.

Betare Rambut Sedana merupakan manifestasi Dewa Wisnu didampingi oleh saktinya dewi Sri Laksmi, bertugas memberikan kesejahteraan, kemakmuran dan harta benda kepada para pemuja yang setia memuja beliau setiap hari.

Umat Hindu yang pernah membaca lontar Wawacan Sulanjana atau mendengar ceritra Rakyat Jawa mengetahui bahwa Dewi kesuburan dan kesejahteraan (Dewinya Padi dan Tumbuh-tubuhan bermanfaat)
adalah Dewi Sri atau disebut juga Sanghyang Asri. Dewi Sri atau Sanghyang Asri distanakan di Sawah-sawah dan lumbung padi. Jadi yang disebut Dewi Melanting bukanlah Ida Ayu Swabawa melainkan Dewi Sri Laksmi- sakti dari Betare Rambut Sedana (Wisnu). Sedangkan Betare Rambut Sedana adalah nama lain dari Dewa Wisnu yang bertugas memberikan kekayaan, kemakmuran dan kesejahteraan kepada para Bhakta-nya.

Karena dianggap "Sakti" dan "mumpuni dibidang agama" pada zamannya maka Danghyang Nirarha diangkat menjadi Bagawanta kerajaan di Gelgel. Pada saat itu yang menjadi penguasa di Gelgel adalahDalem Waturenggong (1460-1550 M).

Tidak berapa lama setelah menjabat sebagai Bhagawanta Kerajaan Gelgel, Danghyang Nirarta sang puruhita kerajaan gelgel menerapkan teori RASIS (Kasta) yang sejak semula telah menjadi Ideologinya, dan merestukturisasi masyarakat Bali menjadi berbagai macam kasta.

Dengan mengadopsi DALIL-DALIL WEDA versi kaum misionaris Kristen-Portugis di India maka Catur Warna diadopsi menjadi Catur Kasta ( dari bahasa Portugis : Caste) dan ditetapkan menjadi Awig-Awig (peraturan kerajaan).

Untuk mendukung gagasan-nya membentuk kasta-kasta di Bali, Danghyang Nirarta menuliskannya dalam lontar “ Widhi sastra sakeng niti Danghyang Nirarta” (Singgih Wikarma 1998 : Leluhur orang Bali dari dunia babad dan sejarah. Penerbit Paramita, Surabaya, halaman 63).

Semenjak itu munculah Kasta yang dilekatkan kepada agama Hindu di Bali. Kasta Brahmana yang isinya terdiri dari anak-anak keturunan Danghyang Nirarta, termasuk juga keturunan yang sebelumnya dikatakann sebagai “supa-an-cacing kalung”(Nyi Berit), dan anak yang dikatakannya PENYEROAN (asisten rumah tangganya Bendesa Mas) yang bernama Ni Patapan. Kasta Ksatrya diberikan kepada keturunan dalem Gelgel, di kecualikan kepada keturunan Dalem Taruk yang ditetapkan sebagai Sudra. Kasta Wesya ditetapkan kepada Keturunan Majapahit yang menyertai Dalem Samprangan, Sedangkan Kasta sudra ditetapkan kepada penduduk Bali Age

Sistem Baru ini mengabaikan Sastra-Sastra, lontar-lontar Agama Hindu, maupun Prasasti-prasasti yang sudah ada di Bali sebelumnya, seperti prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja Udayana mapun raja Anak Wungsu.

Pada Prasasti Bila, yang dikeluarkan oleh raja Anak Wungsu tahun 995 C atau 1073 M), M) menyebutkan peran para Brahmana. Itu berarti yang disebut Brahmana pada zaman itu pasti bukan Anak cucu Danghyang Nirartha, karena Danghyang Nirartha baru tiba di Bali th. 1489 M atau hampir 500 th setelah prasasti Bila diterbitkan. Yang disebut para Brahmana pada prasasti Bila th. 995 C (1073 M) pastilah Mpu Kuturan, Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Gana, serta para Bhamana keturunan Rsi Markandeya dan Mpu Kepandean yang sudah Dwijati (Mpugdala) yang membantu raja Anak Wungsu.

Seperti dicatat dalam sejarah, bahwa pada saat Prabu Udayana menjadi raja di Bali (989-1011M), terdapat 9 sampradaya (sekte agama Hindu) di Bali. Untuk membangun agama Hindu di Bali, Prabu Udayana meminta bantuan 5 Brahmana bersaudara yang berasal dari JAMBUDWIPA/INDIA ( I Gusti Bagus Sugriwa : Babad Pasek. Penerbit Balimas Dps. Halaman 15) yang menetap di Jawa Timur, diantaranaya : Mpu Rajakerta yang kemudian menjadi Senopati Kuturan sekaligus Bhagawanta Kerajaan, didampingi oleh saudara-saudaranya : Mpu Semeru, Mpu Gana, Mpu Gnijaya. Sedangkan adiknya yang paling kecil Mpu Baradah tetap tinggal di Jawa diminta oleh Raja Airlangga (Anak Prabu Airlangga - kakak dari Anak Wungsu) menjadi Bhagawanta kerajaan di Kahuripan- Jawa Timur.

Setelah kasta-kasta ini disahkan di Bali, diberlakukan pulaperbudakan. Raja-Raja Bali dengan dukungan Kelompok “Brahmanahasil Strukturisasi “, membuat awig-awig untuk mengesahkan perbudakan. Menghukum rakyat Bali yang beragama Hindu (awig-awig tersebut tidak berlaku bagi umat selain umat Hindu) yang melanggar awig-awig sebagai budak dan boleh di jual oleh Raja. Raja-raja Bali memperoleh harta untuk membangun Puri-purinya yang megah dengan mengekspor para budak ber-agama Hindu kepada Kompeni di Batavia.

Sistem Kasta dan Perbudakan ini jelas mengadopsi konsep-konsep Injil dan per-budakan dalam masyarakat Arab dan Eropa tanpa reserve. Karena dalam Agama Hindu tidak dikenal istilah Kasta dan Perbudakan.

Sistem Perbudakan yang dijadikan komoditas Ekspor oleh Raja-Raja Bali, menyumbang hampir 60 % budak-budak kepada VOC di Batavia. Budak-budak beragama Hindu dari Bali di jual ke Batavia, Hindia Barat, Afrika Selatan, dan pulau-pulau di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Sebagai contoh: klan Sudira di Depok yang disebut “Belanda Depok”, adalah orang yang berasal dari Gianyar dan tidak ada sedikitpun identitas ke Hinduan atau Bali nya yang tersisa, hanya saja kalau kita tanya mereka mengaku kakeknya berasal dari Gianyar-Bali, Demikian juga Untung Surapati, budak belian berasal dari Bali berkat perjuangannya yang gigih dan kecerdasannya bisa menjadi Tumenggung di Pasuruan - Jawa Timur tetapi identitas ke Hinduan-nya sedikitpun tidak tersisa.

Para Durjana menguasai Umat Hindu

Dari manakah Raja-Raja Bali saat itu mendapat ilmu tentang perbudakan dan kasta-isme?, Apa sumbangan para “Brahmana” dan para Raja Bali saat itu ( abad 14-19 ) terhadap umat dan Agama Hindu?, Kenapa para Durjana serakah bisa menguasai umat Hindu di Bali saat itu ?.

Inilah tanda-tanda kehancuran Agama Hindu di Indonesia. Karena para “Brahmananya” tergoda oleh prestise pribadi, harta dan kuasa. Para Brahmana dan Raja tidak cerdas mengamati peta politik global, tidak peduli terhadap ajaran kitab suci Weda. Para Raja bermahkotakan Emas, dan Para Brahmana juga berkalung dan ber Ketu (mahkota) bertatahkan permata dan emas, sementara rakyat/umat-nya telanjang tanpa busana, fenomena ini sangat menarik minat wisatawan Eropa datang ke Bali, untuk melihat kemolekan gadis-gadis Umat Hindu Bali yang ber-telanjang dada mondar-mandir dijalan. Dan ini membanggakan para raja-raja Bali untuk kembali mendatangkan dolar.

Sebelum kedatangan Danghyang Nirarta, tidak ada kasta-kasta maupun Budak dari Bali. Umat Hindu di Bali tidak ada yang bernama Anak Agung, Ida Bagus, Cokorda, maupun I Dewa. Silahkan lacak nama-nama orang Bali pada Babad-babad, kapan nama-nama itu mulai muncul dalam khasanah nama-nama orang Bali. Tidak ada yang namanya AA.IB. IC. ID,IGN IGst, maupun I Wayan yang mengaku Brahmana, Ksatrya, maupun Sudra. Martabat orang Bali ditentu-kan oleh perilakunya. Warna nya ditentukan oleh pekerjaannya. Bahkan Sri Kresna Kepakisan raja Pertama Gelgel sebelumnya bernama Ketut Kresna Kepakisan, karena merupakan anak ke 4 dari Danghyang Kepakisan seorang Brahmana dari Jawa Timur. Kresna Kepakisan tidak bernama Ida Bagus Kresna Kepakisan, meskipun beliau anak seorang Brahmana, tidak juga memakai nama Anak Agung atau I Dewa Kresna Kepakisan, meski beliau menjadi raja diraja Bali. Namanya cukup menjadi Sri Kresna Kepakisan.

Begitu pula raja-raja Bali maupun Jawa sebelumnya seperti; Sri Ugrasena, Sri Kesari Warmadewa, Sri Udayana, Sri Wijaya, Sri Dharmawangsa dll, cukup memakai gelar Sri, sedangkan panglima perang pejabat kerajaan lebih senang memakai nama-nama binatang, seperti; Kebo Iwo, Kebo Parud, Gadjah Mada, Gadjah Maruga, Patih Wulung, dll. sebagai tanda bahwa Agama Hindu dan adat Bali/Jawa saat itu sangat egaliter. Salah seorang anak Sri Kresna Kepakisan, yaitu Dalem Taruk anak anaknya bernama I Gede Pulasari, I Gede Bandem, I Gede Balangan, Merupakan generasi ke 3 Dinasti Kepakisan, tidak memakai gelar bentukan Danghyang Nirarta dan Dalem Waturenggong.

Kasta di Bali pada masa kolonial

Th. 1882, kolonialis Belanda mendirikan Raad Van Kerta, mahkamah adat Bali, dengan alasan politik etis. Hakim-hakim pada Raad Van Kertadiisi oleh para Pedande (bukan Sri Empu, Bujangga Wisnawa maupun Rsi), meskipun tidak jarang mereka tidak mengerti masalah hukum, dan tidak mengerti teks-teks hukum keagamaan seperti Agama, adigama, purwa agama dan kutara agama yang ditulis dalam bahasa jawa kuno.

Belanda membantu pegangan para hakim Raad Van Kerta dengan menterjemahkan teks-teks tersebut kedalam Bahasa Melayu dan bahasa Bali untuk digunakan sebagai acuan hukum oleh anggota Raad Van Kerta.

Terjemahan teks-teks dari bahasa Jawa kuno kedalam bahasa Melayu dan bahasa Bali disesuaikan dengan selera dan kepentingan kolonialisme dan misionarisme. Hal ini sama dan sebangun dengan upaya Max Muller beserta kawan-kawannya dalam menter-jemahkan kitab Weda yang disesatkan untuk diterapkan pada masyarakat Hindu di India. Geoffrey Robinson mengomentari hal ini sebagai rekayasa tradisi Bali yang paling mencengangkan oleh Kolonial Belanda.

Kitab Agama, adigama, purwa agama dan kutara agama, sewaktu diterapkan oleh Raja-Raja Hindu di Jawa, tidak pernah menerap-kan kasta-kasta, karena tidak ada satu kata pun dalam kitab Hukum Hindu maupun kitab Weda yang berisi kata kasta.

Kasta tidak dikenal dan merupakan kata asing bagi umat Hindu, apalagi menjadikan para pesakitannya sebagai Budak. Kasta dan Budak adalah akal-akalan kolonialis semata, sebagai cerminan tradisi kitab Injil dan Al Quran yang diberlakukan di Arab dan Eropa.

Pada tahun 1910 kolonialis Belanda meng ikuti jejak rekan Eropa-nya di India yaitu kolonialis Inggris, mendukung penetapan konsep kasta sebagai fondasi prinsipil masyarakat Bali. Dengan demikian koloni-alis Belanda, melegalkan dan meneguhkan hierarki kastabeserta seperangkat aturan menyangkut hubungan antar kasta dan hak-hak istimewa kasta, yang sebelum-nya tidak pernah ada dalam praktekdi Bali. Dalam kata-kata V.E. Korn, orang Belanda, pakar Bali dan kontrolir Badung 1925 : ” Bukan saja triwangsa diberi tempat yang terlalu penting, tetapi juga dilindungi melalui sederet pasal-pasal yang sangat jauh melampaui para raja dan teks-teks hukum tempo dulu”.Pendeknya, apa yang diartikan sebagai usaha Belanda untuk bergiat dalam “tradisi” Bali sebagai politik etis, sebetulnya adalah penciptaan tatanan hierarki baru yang pasti, di mana kekuasaan golongan kasta tinggi lebih besar daripada sebelumnya, dan terlebih lagi di sahkan oleh struktur legal, ideologis dan koesif negara kolonial. (Geoffrey Robinson,Sisi Gelap Pulau Dewata,2005 halaman 51)

Pemurtadan Umat Hindu makin menjadi-jadi dengan tujuan Konversi

Umat Hindu telah dibuat tersesat oleh sarjana pseudoilmiah dan misionarisme, juga oleh umat Hindu sendiri yang tercemar pemikiran misionaris dan tidak kukuh mempertahankan Dharma. Penyesatan tersebut bahkan sampai ketingkat pemurtadan, menentang perintah kitab suci Yayur Weda XXVI.2 : Yathemam vacam kalyanim avadani janebhyah, Brahma rajanyabhyam sudraya caryaya ca svaya caranaya ca artinya : hendaknya wartakan sabda suci ini kepada seluruh umat manusia, baik kepada para Brahmana, para raja-raja maupun kepada masyarakat pedagang, petani dan nelayan serta para buruh, kepada orang-orangku maupun orang asing sekalipun.

Juga pemurtadan Sloka BG. XVIII.70 : Adhyesyate ca ya imam, dharmyam samwa-dam awayoh,jnanayajnena tena‘ham, istah syam iti me matih/ Mereka yang membaca percakapan-Ku ini, oleh mereka Aku telah dipuja dengan yadnya Ilmu Pengetahuan. Demikian telah Aku nyatakan.

Sraddhawan anasuyas ca, srinuyad api yo narah, so’pi muktah subham lokan, prapnuyat punyakarmanam (BG.XVIII.71) Artinya : Orang yang mempunyai keyakin-an dan tidak mencela Orang seperti itu, walaupun hanya sekedar mendengar orang berbicara kitab suci. Ia juga akan dibebaskan, mencapai dunia kebahagiaan sebagai manusia yang berbuat kebajikan.

Rakyat Bali yang bukan “berkasta Brahmana “ dilarang belajar Weda. Hanya mereka yang menyebut dirinya kasta “Brahmana” saja yang boleh belajar agama. Agama dimono-poli oleh Satu kelompok, sedang rakyat tidak boleh belajar Agama Hindu, kalau belajar Agama Hindu nanti bisa Buduh (=gila) katanya. Bahkan Konon buku-buku Resi Gotama terbit berisikan perintah untuk mengecor mulut orang-orang diluar Kasta Brahmana, apabila berani membaca Weda,memerintahkan untuk mengecor dengan timah panas telinga orang-orang diluar kasta Brahmana kalau berani mendengar mantra/seloka Weda. Dengan Kata lain Umat diluar kasta Brahmana tidak boleh mendengar dan membaca Kitab Weda.

Kemudian dipromosikan pula konsep ayuwe were tan siddhi palania, (plesetan atau pelintiran dari, Ayu Were Siddhi palaniadidalam kitab purwagama) dan “anak mule keto” suatu ungkapan yang selalu terdengar kalau ada anak-anak/umat Hindu bertanya tentang Agama Hindu. Nawegang antuk linggih, juga suatu ungkapan yang selalu terdengar mendahului percakapan terhadap orang yang baru dikenal. Inilah pemurtadan dan penyesatan yang menjadi-jadi.

Pemurtadan dan penyesatan tersebut didukung oleh pemerintah kolonialis Belanda dan kaum misionaris kristen yang di-kirim untuk mengalih agamakan orang Bali. Pemerintah Kolonialis menguatkan konsep kasta dalam praktek pemerintahan kolonial. Dalam Notulen konferensi administratif tanggal 15-17 september 1910, collectie Korn no 166; Pemerintah kolonial Belanda mendukung konsep kasta, sebagai pondasi prinsipil masyarakat Bali. Dalam penerapan-nya, Pemerintah kolonial Belanda memper-luas kasta-kasta dengan mengangkat pegawai pamong praja yang pro kolonial dan memberi nya gelar bangsawan secara turun temurun.

V.E. Korn menyatakan bahwa sebelum pemberlakuan pemerintahan kolonialis Belanda di Bali, banyak kaum non kasta yang meduduki jabatan-jabatan dalam otoritas politik seperti : sebagai punggawa, sedahan, perbekel dan sebagainya dibanding sesudah-nya. Pemerintah Belanda begitu yakin pada gagasan bahwa ketiga kasta tertinggi menyusun fondasi terpenting masyarakat Bali, maka nyaris anggota kasta-kasta itu sajalah yang ditunjuk untuk memegang jabatan tinggi. Dengan mengutip beberapa contoh, Korn mengatakan bahwa di Buleleng (Bali Utara) sebelum aturan kastaisme diterapkan, 16 dari 26 Punggawanya bukan dari ketiga kasta tinggi. Bahkan banyak kelompok diluar ketiga kasta menduduki jabatan tinggi misalnya sebagai pejabat pajak dan hakim pada masa pra kolonial. (V.E. Korn : Het Adatrecht van Bali, 1932 dalam Sisi Gelap Pulau Dewata oleh Geoffrey Robinson, 2005)

Penolakan sistem Kasta yang dikait-kaitkan dengan Agama Hindu bukannya tidak pernah ada saat itu, bahkan saat gagasan pengadopsian Catur Warna menjadi empat kasta dimunculkan, para Cendikiawan Hindu maupun yang perduli akan perkembangan Agama Hindu sudah bereaksi memprotesnya, misalnya dengan terbitnya Surya Kanta, koran berbahasa Melayu di Bali tahun 1920-an. Tetapi gempuran para Indolog pendukung kastaisme ditambah dukungan penguasa pribumi boneka kolonialis dan “Brahmana palsu”, lebih dahsyat dari pada yang menentang kastaisme. Terlebih lagi kondisi umat Hindu saat itu tidak berdaya oleh kolonialisme, sehingga konsep kaku kasta maupun aturan-aturannya tetap dijalankan, meski terus mendapat penentangan.

Pada tanggal 20 Juni tahun 1916 warga Desa Lodjeh, Karangasem, memprotes keputusan Raad Van Kerta, disusul pada bulan Mei 1917 warga Desa Sukawati Gianyar. Dengan todongan bedil kolonialis Belanda, protes-protes tersebut dapat dipadamkan dengan dibayar nyawa warga Umat Hindu yang tidak berdaya. Pada kasus Sukawati sebanyak 5 orang umat Hindu mati dibunuh, 11 orang luka-luka dan 26 orang ditangkap dan di jual sebagai budak. (Geoffrey Robinson: Sisi gelap Pulau Dewata, LKiS Yogya.2006)

Kasta dan Perbudakan tidak sesuai dengan ajaran kitab Weda. Tidak ada satu kata-pun dalam kitab Weda maupun kitab Hukum Hindu yang memuat kata kasta. Kasta dan perbudakan merupakan produk import yang berasal dari budaya perbudakan masyarakat Arab dan Eropa yang tercemin dalam kitab suci Al Qur’an dan Injil (baca Injil Imamat 25/44-46, keluaran 21/1-6, timotius 6/1,titus 2/9, Efesus 6/5-6. I Petrus 2/18 maupun Al Qur’an Surat An Nissa ayat 24 dan Surat Al Mu’minuum ayat 1-6).

Bahwa Agama Hindu telah disudutkan dari dua sisi. Dari sisi kebijakan pemerintahan kolonial dan sisi pemikiran. Bahkan sampai Indonesia merdeka praktek-praktek pengang-katan pejabat berdasarkan kastaisme terus berlanjut.

Ir. Soekarno yang lahir dari rahim Ni Nyoman Rai Sarimben, warga pasek Bale Agung Buleleng - leluhurnya satu Ayah dan satu Ibu dengan Ken Dedes-Permaisuri Ken Arok, salah satu Leluhur Raja-Raja di Jawa, mengganti nama ibundanya menjadi Ida Ayu Nyoman Rai, guna melanggengkan Kasta-isme yang tidak tahu diri.

Tumbuhnya kesadaran baru dikalangan Umat Hindu

Pada tahun 1980-an, tumbuh kesadaran baru dikalangan Umat Hindu. Dengan sangat Hormat, berkat Jero Mangku Gde Ketut Subandi seorangPemangku Adat dan ahli babad Bali, membuka belengu tirani kastaisme di Bali. Dengan Lantang Beliau menganjurkan kepada Umat Hindu untuk membaca Weda dan me-dwijati beberapa umat menjadi sulinggih ( Ida Pandita Mpu ). Jero Mangku Gde Ketut Subandi juga menunjukkan bukti-bukti kesejarahan leluhur orang Bali, melalui babad-babad, yang selama ini telah dimanipulasi dan di-kotak-kotak kan diberbagai kasta.

Kini abad tehnologi, Kasta sudah mulai luntur baik di India maupun di Bali. Bukti-bukti kesejarahan sudah ditunjukkan. Dalil-dalil rasisme/kastaisme yang dilekatkan kepada umat Hindu sudah ditolak karena terbukti merupakan propaganda kaum Adharma dan ditampilkan Catur Warna yang asli, seperti tertulis dalam kitab-kitab Weda (bukan Weda terjemahan Max Muller dkk). Tetapi kaum Adharmatidak pernah kehilang-an energi untuk terus memompakan sema-ngat Kastaisme, yang dilekatkan kepada agama Hindu.

Rupanya penyesatan Weda oleh kaum Adharma juga tidak pernah kendor. Ibarat Buruk Muka Cermin di Belah; Konsep perbudakan di Al Quran dan Injil diterap-kan pada masyarakat Hindu di India dan Bali yang terjajah. Rakyat India dan Bali saat itu tidak berdaya karena dalam tekanan pen-jajahan sehingga seolah-olah perbudakan / kastaisme bersumber dari Weda.

Bahwa kasta-kasta di Bali di buat karena kebodohan umat Hindu saat itu , dan diman-faatkan oleh kaum hedonis dan kolonialisme. Kini Umat Hindu sudah pintar-pintar. Bisama Parisadha Hindu Nomor : 03/ Bhisama /Sabha Pandita Parisada Pusat/X/ 2002 tertanggal 29 Oktober 2002 tentang Pengamalan Catur Varna, telah dikeluarkan, tetapi kalau hanya sekedar bhisama, masih banyak pembangkangan, harus ada sangsi hukum positif melalui perda atau undang-undang Desa pekraman yang baru, untuk menghapus diskriminasi dan kastaisme. Awig-awig dibuat oleh manusia, bisa diperbaharui dengan awig-awig yang sesuai dengan tuntutan jaman untuk kepentingan Manusia. Awig-awig yang terbukti sesat karena mengacu terjemahan misionaris kristen, harus di musnahkan dan diganti dengan awig-awig baru yang lebih manusia-wi dan agamis sesuai dengan kitab Weda asli yang Berbahasa sansekerta.

Empat Kasta tidak sama dengan Catur Warna. Catur Warna adalah Empat Tipe Kepribadian Manusia

Empat kasta tidak sama dengan Catur Warna. Kasta merupakan statifikasi sosial yang sangat kaku berdasarkan atas keturunan, Sedangkan Catur Warna merupakan Tipologi Kepribadian Manusia,yang terbentuk oleh interaksi dinamis triguna karma. Seperti disebutkan dalam BG. IV.13 : Chatur Varnyam maya srishtam guna karma vibhagasah, artinya: Catur warna adalah ciptaanku bardasarkan guna karma yang melekat padanya.

Triguna sebagai dasar pembentukan Catur Warna terdiri dari Satwam, Rajas dan Tamas. BG.XIV.5, menyebutkan : Sattwam Rajas Tamas iti Guna Prakritisamdhawah, artinya:

Satwan rajas tamas merupakan sifat bawaan yang terlahir dari prakirti.

Selanjutnya Bagawad Gita XIV.6 menyebut-kan Ciri-ciri Satwam sebagai berikut :

Nirmalawat = Sifat yang tidak tercela.

Prakasakam = Bercahaya

Anamayam = tidak mengenal sedih/ menderita

Sukhasangena = selalu memberi rasa senang

Jnanasangena = memberikan ilmu pengetahuan

Anagha = tidak tercela

Ciri-ciri Rajas (BG.XIV.7) :

Raga = nafsu,

Atmakam = sendiri,

Trsna = nafsu birahi,

Sanga = terikat,

Karmasangena = terikat oleh karma.

Dahinam = Jasad Rohani.

Ciri-ciri Tamas (BG.XIV.8) :

Ajnanam = tidak berpengetahuan,

Mohanam = kebingungan,

Pramada = tidak peduli/hirau/masa bodo.

Lasya = malas,

Nibrabhis = ketiduran/malas ,

Nidra = tidur,

Satwam menghubungkan seseorang kedalam kebahagiaan, Rajasmenghubungkan orang dalam perbuatan/ karma, sedangkan Tamasmenutup pengetahuan sehingga menjadi kurang waspada. (BG.XIV.9).

Selanjutnya Bagawad Gita XIV.11-13, menyebutkan : apabila badan ini didominasi oleh Satwam maka Ilmu pengetahuannya menembus didalam badan melalui semua pintu. Apabila didominasi oleh Rajasmaka perilaku yang tampak adalah:

Lobham = Loba, giat dalam usaha,

Prawrttir = Kegiatan kerja duniawi.

Arambah = giat berusaha.

Sprha = kemauan kuat.

Sedangkan apabila Badan ini didominasi oleh Tamas maka akan tampak :

Aprakaso = kekurangan cerah/tdk bersinar,

Aprawrtti = malas.

Pramada = tidak peduli/teledor.

Moha = bingung,

Nidralasya = suka tidur,

Mohanam atmanam = kesesatan jiwa

Triguna sebagai pembentuk struktur Catur Warna terdiri dari :

1. Satwam, merupakan gudang nilai-nilai moral dan Ilmu pengetahuan, sehingga mampu melakukan sensor bagi individu dalam menentukan salah atau benar, baik atau jahat, karena Satwam memperhati-kan prinsip-prinsip moral dan merupa-kan representasi dari norma umum dan kesusilaan.

2. Rajas, mewakili kenyatan fisik dan sosial seseorang. berpungsi sebagai penyeim-bang antara Tamas dan Satwam.

3. Tamas, merupakan struktur kepribadian primitif, tidak sadar, bekerja tidak rasional dan infulsif,karena merupakan dorongan kemauan insting.

Catur warna dalam Agama Hindu sangat terbuka. BG.XVIII.41. menyebutkan : Brahmana ksatrya wisam sudranam ca parantapa, karmani prawibhaktani swabhwa prabhawir gunah. Artinya BrahmanaKsatrya Wesya dan Sudra perilakunya dibentuk oleh sifat bawaan guna (triguna).

Pola perilaku yang ditunjukkan secara terus menerus oleh tiap-tiap individu menurut Prof. DR. Kusumanto Setyonegoro disebutKepribadian/ personality . Sedangkan menurut Salvador R Maddi,Kepribadian merupakan seperangkat karakteristik yang relatip mantap,kecenderungan dan perangai yang sebagian besar dibentuk oleh faktor keturunan dan faktor faktor sosial, kebudayaan dan lingkungan. Perangkat variabel ini menentukan persamaan dan perbedaan perilaku individu.

Jadi Catur Warna bisa pula diarti-kan sebagai Empat Tipe kepribadian manusia - menurut Ilmu Psikologi.

Sangat mungkin Sigmund Freud membangun teori Psiko-dinamis Kepribadian nya setelah membaca Seloka-seloka Gita ini. Sigmund Freud: menerangkan perbedaan kepribadian individu karena tiap orang mengalami perangsangan pokok yang berbeda-beda, yang disebabkan oleh pertentangan terus menerus antara dua bagian dari struktur kepribadiannya yang menurut istilah Freud disebut ; Id, Ego dan super ego.

Kepribadian (bhs Inggris Personality), tidak sama dengan sifat/watak (Bhs Inggris character ). Kepribadian/personality bersifat menetap,konsisten sepanjang waktu dan dalam berbagai situasi. sedangkan watak/ character sifatnya sewaktu-waktu dapat berubah, misalnya besifat atau berwatak keras kepala, pemarah dls.

Didalam kitab Weda, Seseorang disebut Brahmana kalau memperlihatkan ciri-ciri Brahmana seperti disebutkan dalam seloka Bagawad Gita . XVIII.42 sebagai berikut :

Samo = khusuk/tenang,

Damas = menguasai panca indra/mampu mengendalikan diri.

Tapah = mampu mengendalikan nafsu

Saucam = suci.

Arjawa = luhur budinya.

Ksanti = damai/tenang,

Jnanam = berpengetahuan.

Wijnanam = bijaksana/berpengalaman.

Astikyam = religius.

Seseorang disebut Ksatrya apabila mem-perlihatkan ciri-ciri Ksatryaseperti disebut-kan dalam Bagawad Gita.XVIII.43 yaitu :

Sauryam = heroisme/pemberani.

Tejo = lincah.

Dhritir = teguh .

Daksyam = pandai menyelesaikan tugas,

Yuddhe = siap bertempur.

Apalayamam = tidak pengecut.

Dana = dermawan.

Iswarabhawa = bersifat memimpin/ berwibawa.

Seseorang disebut Wesya apabila mem-punyai ciri-ciri Wesya seperti disebutkan dalam BG .XVIII.44 sebagai berikut :

Krsi = mengusahakan pertanian.

Gauraksya = memelihara lembu/berternak.

Wanijyam = berdagang.

Sedangkan seseorang disebut Sudra kalau mempunyai ciri-ciri Sudraseperti disebut dalam BG.XVIII.44 sebagai berikut :,

Paricaryatmakam = suka melayani

Seorang Brahmana bisa saja terlahir dari warna Sudra/pelayan, seperti Narada Muni, meskipun orang tuanya seorang Babu (pembantu rumah tangga) berkat proses belajar, akhirnya Narada mampu menjadi Brahmana, bahkan kemudian diangkat menjadi Penghulu di Sorga dengan sebutan Betare Narada. Demikian juga Ksatrya bisa tumbuh dikalangan Sudra contohnya Radeya, anak kusir kereta, dan Damar Wulan seorang gembala kuda, dan Juga Bambang Ekalawiya, seorang anak Nisada yang tidak mau diangkat menjadi murid oleh Rsi Drona karena dianggap bukan Keturunan Ksatrya, berkat proses belajar yang ulet mereka mampu menjadi Ksatrya. Ksatrya bisa juga berasal dari anak serang bromocorah, seperti Ken Arok-anak seorang pencuri dan penjudi, berasal dari orang tua yang bukan Ksatrya, bukan pula berasal dari Brahmana, berkat proses belajar Ken Arok akhirnya bisa menjadi Ksatrya /Raja. Seorang Ksatrya bisa juga besar dikalangan peternak sapi/wesya contohnya Sri Kresna. Seorang Ksatrya bisa juga lahir dari kalangan yang tidak diketahui identitas/asal-usulnya, misalnya Mahapatih Gadjah Mada. Seorang Ksatriya bisa juga berasal dari Brahmana misalnya Kresna Kepakisan, Darmawangsa Teguh, Arya Tatar, Patih Ulung. Dan juga I Gusti Agung Pasek Gelgel yang diangkat menjadi Caretaker Raja Bali th. 1345-1352 oleh Mahapatih Gadjah Mada adalah keturunan seorang Mpu. Seorang Brahmana bisa juga berasal dari keturunan Raksasa seperti : Prahlada, anak Raksasa Hiranya Kasipu, bisa menjadi Brahmana. Seorang Brahmana atau Ksatrya bisa pula mempunyai anak menjadi Sudra atau Wesya, tergantung bagaimana orang tua mendidiknya dan lingkungan yang mempengaruhinya.

Yayur Weda XXX.5 menyebutkan : Brahmane brahmanam, Ksatraya rajanam, marudbhyo vaisyam, tapase sudram artinya:

Brahmana untuk pengetahuan, Ksatrya untuk perlindungan, Waisya untuk perdagangan, dan Sudra untuk pekerjaan jasmaniah.

Maksud dari mantra tersebut seorang yang mempunyai tipe kepribadian Brahmana sangat cocok untuk melakukan pekerjaan berkaitan dengan ilmu pengetahuan seperti menjadi seorang :guru/dosen/acharya, rohaniawan maupun pendeta/sulinggih.

Sedangkan yang mempunyai tipe kepribadi-an Ksatriya, lebih cocok untuk berprofesi sebagai yang melindungi seperti; Prajurit/ tentara,Penguasa, dan Pejabat pemerintahan.

Sedang mereka yang bertipe kepribadian Wesya lebih cocok kalau perkerja sebagai Pedagang, Pengusaha, Peternak atau Petani .

Sedangkan mereka yang mempunyai tipe kepribadian Sudra lebih cocok berprofesi/ bekerja sebagai pegawai gajian yang lebih banyak menggunakan tenaga fisik dari pada kemampuan intelektual-nya, seperti menjadi buruh atau pegawai/ karyawan yang tidak menentukan kebijakan, karena tipe kepribadi an Sudra lebih suka mengerjakan pekerjaan fisik/suka melayani dan kurang dalam kemampuan Intelektual. (kurang cerdas).

Dengan mengetahui tipe kepribadian seseorang sangat membantu untuk kemajuan dalam memilih profesi. Dengan demikian Agama Hindu sudah sangat maju dalam bidang Ilmu Psikologi. Tentu Profesi ini tidak menetap, tergantung proses belajar dan lingkungan yang mempengaruhinya.

Tipe kepribadian yang menetap memberikan arahan kepada kita untuk menyadari potensi maupun kemampuan kita masing-masing, sehingga akan membawa kita ke arah kesuksesan.

Seorang yang berbakat sebagai pengusaha akan lebih sukses kalau menjadi pengusaha dari pada menjadi tentara. Atau seorang yang berbakat jadi Guru akan lebih sukses kalau dia menjadi guru, dibandingkan kalau menjadi pedangang. Atau seseorang yang tidak mempunyai kecerdasan Intelektual (IQ) dan kecerdasan Emosional (IE) lebih baik bekerja sebagai pegawai gajian/atau buruh dari pada memaksakan diri bekerja sebagai Pendeta.Atau bercita-cita menjadi pedagang/ pengusaha.

Lalu bagaimana menentukan tipe kepribadian seseorang ?

Menurut R.B.Cattell; ada 16 ciri dasar yang melandasi perbedaan perilaku individu. Dalam riset yang dihasilkan dari pengem-bangan daftar pertanyaan 16 PF Cattell (sixteen Personalities Factor), digunakan untuk mengukur sejauhmana orang mempu-nyai ciri-ciri tersebut. Diantara ciri-ciri yang diindentifikasi oleh Cattell adalah: pendiam-ramah tamah,praktis-imajinatif.santai-tegang rendah hati-tegas. Ke 16 ciri Cattell tersebut bersifat 2 kutub, masing masing memiliki 2 ektrim( contoh santai-tegang).

Kitab Bagawad Gita dapat dipakai se-bagai referensi Ilmu Psikologi modern untuk mengetahui tipe-tipe kepribadian sese-orang. Kepribadian dapat diketahui dengan memakai ciri-ciri kepribadian ( Tait of personality ) dengan mengacu pada sloka-sloka BG XIV.6-8 dan BG XIV. 11-13 dan BG. XVIII.42-44 diatas. Dengan mengacu sloka-sloka tersebut serta mengamati pola-perilaku yang ditunjukkan secara terus menerus oleh seseorang, dapatlah kita menyimpulkan, seseorang mempunyai tipe kepribadian Brahmana atau tipe Kepribadian Ksatrya, tipe Kepribadian Wesya atau tipe Kepribadian Sudra.

Dengan menggunakan Ilmu Psikologi ini, dapat pula kita menilai, apakah seorang Perwira Tentara layak disebut Ksatrya apa tidak. Seorang Pendeta layak disebut Brahmana apa tidak. Bagaimana dengan Perwira yang kabur dari medan perang/ desersi, atau seorang Pendeta yang (maaf) membisniskan kependetaannya atau menjual doa-doanya?. Ataupun Pengusaha besar (wesya) yang mendapatkan kekayaan dengan menjual produk yang dilarang oleh Agama maupun Undang-undang. Atau seorang buruh tani yang berperilaku sopan santun, selalu membuat orang lain senang, berpengetahuan Agama yang luas, berpe-nampilan menarik?. Tetapi karena keadaan membawanya menjadi Buruh?????

Dengan demikian Catur Warna tidak tepat kalau diterjemahkan sebagai Empat kelompok masyarakat berdasarkan jenis pekerjaan atau profesinya. Karena pekerja-an seseorang belum tentu sesuai dengan pola perilakunya.Catur Warna lebih cocok diterjemahkan : Empat tipe kepribadian manusia.

Untuk mengetahui tipe kepribadian sese-orang dapat menggunakan serangkaian tes dengan mengacu sloka-sloka Bagawad gita XIV.11-13 dan BG. XVIII.42-44. Dengan mengetahui tipe Kepribadiannya, diharap-kan seseorang memilih profesi/pekerjaan yang sesuai dengan tipe kepribadiannya. Sehingga membawa ketenangan dan kesuksesan dalam kehidupannya, karena sesuai dengan “The Right Men and The Right Job”. Manusia bekerja/berprofesi sesuai dengan minat dan keahliannya.